Prof Sri Mulyati

Menjaga Api Tasawuf di Tengah Krisis Spiritual Manusia Modern

tokoh | 19 Februari 2026 12:19

Menjaga Api Tasawuf di Tengah Krisis Spiritual Manusia Modern
Guru Besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Sri Mulyati. (dok nuonline)

JAKARTA, PustakaJC.co – Pemikiran Prof. Sri Mulyati Azmi Abubakar menegaskan bahwa tasawuf bukan pelarian dari dunia, melainkan jalan pembinaan jiwa yang relevan untuk menjawab krisis spiritual manusia modern.

 

Guru Besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu dikenal sebagai akademisi sekaligus tokoh perempuan Nahdlatul Ulama yang konsisten menjembatani spiritualitas Islam dengan dinamika zaman. Melalui karya dan kiprahnya, ia menempatkan tasawuf sebagai energi moral yang mampu menjaga keseimbangan hidup manusia di tengah tekanan modernitas. Dilansir dari nu.or.id, Kamis, (19/2/2026).

 

Dalam pandangannya, tasawuf bukan sekadar teori akademik, tetapi sistem pendidikan spiritual yang terstruktur. Melalui karya monumentalnya, Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, ia menjelaskan bahwa tarekat merupakan jalan menuju Tuhan yang memiliki sanad, metode, dan etika yang jelas.

 

“Tarekat adalah jalan pembinaan ruhani yang membimbing manusia menuju kedekatan dengan Allah secara terarah,” tulisnya dalam buku tersebut.

 

 

Selain aktif di dunia akademik, Prof. Sri Mulyati juga memiliki rekam jejak kuat dalam organisasi keagamaan. Ia pernah memimpin Fatayat Nahdlatul Ulama selama dua periode (1989–2000), menjadi pengurus Muslimat NU, serta anggota Lembaga Bahtsul Masail PBNU.

 

Perjalanan organisasional tersebut menegaskan keyakinannya bahwa tasawuf tidak memisahkan diri dari realitas sosial. Justru sebaliknya, spiritualitas yang mendalam memperkuat keberpihakan pada umat dan mendorong keterlibatan aktif dalam kehidupan masyarakat.

 

Ia juga kerap merujuk teladan para sufi seperti Hasan al-Syazhili, yang tetap aktif membangun masyarakat tanpa meninggalkan kedalaman spiritual.

 

Prof. Sri Mulyati menilai perkembangan teknologi dan modernisasi telah membawa kemajuan material, tetapi juga memicu krisis makna, tekanan psikologis, dan alienasi sosial. Dalam konteks itu, tasawuf menawarkan solusi berupa ketenangan jiwa, kejernihan hati, dan orientasi hidup yang transenden.

 

 

 

Menurutnya, tasawuf harus dipahami sebagai kesatuan antara syariat, tarekat, dan hakikat. Ketiganya merupakan fondasi spiritual yang tidak dapat dipisahkan.

 

Ia juga menekankan bahwa sufisme di Indonesia memiliki karakter moderat dan adaptif. Dalam bukunya, Tasawuf Nusantara: Rangkaian Mutiara Sufi Terkemuka, ia menjelaskan bagaimana dakwah para Wali Songo mengajarkan Islam melalui pendekatan damai, kultural, dan humanis.

 

Prof. Sri Mulyati wafat pada 2023, namun pemikirannya tetap menjadi rujukan penting dalam studi tasawuf dan spiritualitas Islam. Selain karya tentang tarekat, ia juga menulis berbagai buku lain, termasuk Gus Dur di Mata Perempuan, yang membahas perspektif perempuan dalam kepemimpinan Islam, termasuk sosok Abdurrahman Wahid.

 

 

Warisan intelektualnya menegaskan bahwa seorang sufi modern bukanlah sosok yang meninggalkan dunia, melainkan pribadi yang tetap aktif berkarya, menjaga integritas, dan memelihara hubungan spiritual dengan Tuhan.

 

Pemikirannya menjadi pengingat penting: di tengah dunia yang semakin cepat dan materialistik, tasawuf tetap relevan sebagai jalan menjaga keseimbangan jiwa dan tanggung jawab sosial umat manusia. (ivan)