JOMBANG, PustakaJC.co – Nama Nyai Nur Khodijah mungkin tak sepopuler tokoh besar lain dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Namun, perannya tak bisa dipandang sebelah mata. Ia adalah pelopor pesantren putri pertama di Indonesia—jauh sebelum pendidikan perempuan menjadi arus utama.
Selama ini, sosok Nyai Nur Khodijah lebih banyak “tersembunyi” di balik nama besar suaminya, KH Bisri Syansuri, serta garis keturunannya yang melahirkan Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Minimnya literasi membuat kiprah beliau hanya dikenal di kalangan keluarga dan pesantren. Dilansir dari nu.or.id, Kamis, (26/3/2026).
Baru dalam beberapa tahun terakhir, upaya serius dilakukan untuk mengungkap sosoknya. Penelusuran arsip, manuskrip, hingga wawancara dengan santri sepuh mulai membuka fakta-fakta penting tentang perjalanan hidupnya.
Nyai Nur Khodijah lahir di Tambakberas, Jombang, pada 23 Februari 1897. Ia berasal dari keluarga ulama besar, putri Kiai Hasbullah Said dan Nyai Lathifah. Lingkungan pesantren membentuk karakter keilmuannya sejak kecil.
Pada usia muda, ia menimba ilmu di Makkah dan menikah dengan KH Bisri Syansuri. Sepulang ke tanah air, keduanya mendirikan Pesantren Denanyar pada 1917.
Dua tahun kemudian, langkah berani diambil. Pada 1919, Nyai Nur Khodijah menggagas pesantren khusus putri—sebuah terobosan yang saat itu dianggap tidak lazim.
“Pondok Putri Denanyar adalah satu-satunya pada masa itu,” tulis Kiai Aziz Masyhuri dalam biografi KH Bisri Syansuri, dikutip dari nuonline.
Di tengah budaya yang belum memberi ruang luas bagi perempuan, Nyai Nur Khodijah justru membuka akses pendidikan agama bagi kaum perempuan. Ia mengajarkan Al-Qur’an, kitab kuning, hingga membentuk karakter santri putri agar mandiri dan bermartabat.
Langkah ini bahkan sempat menuai tanda tanya dari kalangan ulama. Namun, Nyai Nur Khodijah tetap melanjutkan perjuangannya karena melihat kebutuhan zaman.
Rais ‘Aam PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) menyebut jasa Nyai Nur Khodijah setara dengan perjuangan RA Kartini dalam memperjuangkan pendidikan perempuan.
“Perannya sangat besar dan harus dikenang,” ujarnya dalam sebuah haul.
Tak hanya dikenal sebagai pendidik, Nyai Nur Khodijah juga dikenal sebagai sosok ahli tirakat. Ia istiqamah menjalankan amalan seperti puasa, shalat malam, dan wirid. Prinsip hidupnya sederhana namun kuat: tirakat menjadi kunci keberhasilan.
Ia wafat pada 15 Mei 1955 dalam usia 58 tahun. Meski telah tiada, warisannya tetap hidup melalui pesantren putri dan generasi santri yang ia didik.
Kini, sejarah mulai mencatat ulang namanya. Dari yang semula terlupakan, Nyai Nur Khodijah perlahan kembali dikenang sebagai tonggak penting pendidikan perempuan di Indonesia. (ivan)