Pada akhirnya, kelas menengah kita hari ini tampak seperti tamu yang tak diharapkan dalam sebuah pesta pora pembangunan. Mereka adalah "anak tiri" yang dipaksa tetap bekerja keras demi membayar pajak, namun harus rela gigit jari saat daya belinya digilas depresiasi Rupiah yang kian ugal-ugalan.
Di tengah ambisi kekuasaan yang bernuansa voluntarisme—sebuah keyakinan bahwa kehendak politik bisa melompati realitas ekonomi—pemerintah seolah sedang asyik menata etalase megah bernama target 8%, sementara struktur fondasi di bawahnya sedang keropos dimakan utang.
Mungkin kita memang sedang dipaksa memaklumi sebuah ironi: bahwa untuk membangun sebuah narasi kemajuan, rakyat harus belajar merasa kenyang dan terkagum-kagum hanya dengan melihat deretan mobil impor dan gedung-gedung tinggi, sambil tetap tekun menghitung sisa cicilan di dalam kantong yang kian melompong.
Jika begini caranya, ekonomi kita tidak sedang terbang menuju puncak, melainkan sedang belajar cara jatuh yang paling estetis sambil bertepuk tangan merespon pidato heroik sang pemimpin. (Novi, editor senior PustakaJC.co)