Hadipras

Lonceng di Garasi Kita

tokoh | 12 April 2026 09:46

Jurang antara target ambisius dan proyeksi konservatif ini terletak pada kesehatan kelas menengah. Jika daya beli masyarakat—yang tercermin dari lesunya pasar mobil non-niaga—tidak segera dipulihkan, maka target pertumbuhan tinggi tersebut akan kehilangan pijakannya. Utang yang membengkak, baik di level negara untuk membiayai infrastruktur maupun di level rumah tangga untuk menutupi biaya hidup, adalah bom waktu yang harus dijinakkan.

Masa depan ekonomi kita hingga 2029 akan sangat ditentukan oleh bagaimana kita merespons gejolak di tahun 2026 ini. Tekanan Rupiah memang berat, namun yang lebih berat adalah membiarkan kelas menengah kehilangan napasnya.

Visi besar "Merah Putih" tidak boleh hanya berhenti pada pengadaan aset fisik lewat impor. Ia harus menyentuh penguatan daya beli riil. Tanpa kelas menengah yang kuat, kemandirian ekonomi hanya akan menjadi narasi indah di podium, sementara di jalan-jalan desa, masyarakat hanya bisa menonton kendaraan-kendaraan asing melintas mengangkut komoditas yang harganya kian tak terjangkau.

Menuju 2029, tantangan kita bukan hanya membangun infrastruktur, tapi memastikan rakyat masih memiliki saku yang cukup tebal untuk menikmatinya.