SURABAYA, PustakaJC.co - Mari kita jernihkan pikiran sejenak. Tulisan ini bukan sedang menjadi corong pembelaan bagi mereka yang duduk di kursi empuk kekuasaan, bukan pula upaya memoles wajah birokrasi yang seringkali tampak kaku. Ini adalah ajakan untuk membaca data dengan mata batin, agar kita tidak tersesat dalam rimba angka yang sengaja dibikin rumit.
Belakangan, publik gaduh oleh angka "keekonomian" Pertalite yang disebut menyentuh Rp16.088 per liter, sementara Pertamax yang katanya lebih "ningrat" justru bertengger di angka Rp12.300. Logika waras kita tentu berontak: bagaimana mungkin barang yang kualitasnya lebih rendah disebut lebih mahal harga aslinya? Apakah kita sedang dikerjai oleh sulap statistik?
Di sinilah kita butuh kejujuran yang pahit.