Sebab itu, menjelang 2029 nanti, nurani kita harus lebih tajam. Mandat rakyat jangan lagi diberikan kepada calon pemimpin yang gagap—yang selalu bersembunyi di balik ketidakjujuran dan malah gemar menciptakan keruwetan untuk menutupi ketidakmampuan. Kita butuh nakhoda yang berani menatap mata rakyatnya sambil berkata jujur tentang arah kompas kita, bukan yang sibuk bersilat lidah sementara kapal sedang bocor di sana-sini.
Karena pada akhirnya, harga kejujuran jauh lebih mahal daripada harga satu liter bensin mana pun.
Jadi, jika esok kita melihat angka keekonomian yang melambung tinggi lagi di layar SPBU, jangan terburu emosi. Anggap saja itu adalah harga tiket untuk menonton drama kolosal bertajuk "Salah Antisipasi". Kita semua adalah penonton setianya yang membayar tiket dengan doa dan sisa-recehan di dompet, sembari berharap di 2029 nanti, kita tidak lagi membeli tiket untuk menonton sandiwara yang sama.
*Hadi Prasetyo (Hadipras) adalah tokoh pengamat Sosial, Politik, dan Pemerintahan Jawa Timur, aktif menulis di PustakaJC.co dan BeritaGov.id