Realitasnya, kita sedang menanggung dosa sejarah dari kesalahan antisipasi kebijakan energi di masa lalu. Di tengah nilai tukar Rupiah yang sedang batuk-batuk dihantam badai global—hingga menembus angka psikologis yang mencemaskan terhadap Dollar AS—posisi kita kian terjepit.
Bayangkan jika logika publik menuntut Pertamax (RON 92) yang dijadikan dasar subsidi. Jenis BBM ini harganya sangat sensitif dan mengambang (floating) mengikuti kurs Dollar dan harga minyak dunia. Dengan volume kebutuhan rakyat yang begitu masif, jika kita memaksakan standar RON 92 sebagai basis subsidi saat Rupiah sedang loyo, maka struktur fiskal negara bukan lagi sekadar tertekan, tapi bisa berantakan tak bersisa. Kita akan menjadi bangsa yang seluruh tabungannya habis hanya untuk membakar bensin di jalan raya.
Kita harus berani mengakui bahwa kita terlambat bersiap. Mengapa Pertalite terasa begitu "mahal" dalam hitungan negara? Karena kita terpaksa mengimpor dalam jumlah 'sangat' masif di saat posisi tawar kita rendah, kita menjadi sandera pasar internasional.