SURABAYA, PustakaJC.co – Semangat Raden Ajeng Kartini terus hidup dalam wujud perempuan-perempuan masa kini yang tak hanya berdaya, tetapi juga menjadi penopang kuat dalam keluarga dan masyarakat. Salah satu potret nyata itu hadir dalam diri Dwikisworo Setyowireni, sosok perempuan yang dengan ketulusan dan keteguhan hati mendampingi langkah pengabdian suaminya, Hasto Wardoyo.
Dalam momentum Hari Kartini, Reni—sapaan akrabnya—memaknai perempuan masa kini sebagai pribadi yang mampu menyeimbangkan peran domestik dan sosial. Baginya, perempuan tidak hanya hadir sebagai pendamping, tetapi juga sebagai penggerak perubahan. Hal itu tercermin dari kiprahnya sebagai dokter spesialis anak yang konsisten memperjuangkan kesehatan anak, terutama dalam upaya memerangi penyakit TBC yang masih menjadi ancaman serius.

Reni menaruh perhatian besar pada isu kesehatan anak, termasuk keterkaitan antara TBC dan stunting. Ia bahkan kerap mendorong pentingnya deteksi dini melalui fasilitas seperti mobil rontgen keliling. Dedikasi ini tidak hanya lahir dari profesinya, tetapi juga dari nilai kemanusiaan yang ia pegang teguh sejak lama.
Perjalanan hidupnya menunjukkan konsistensi tersebut. Lahir pada 16 Maret 1964, Reni menempuh pendidikan kedokteran hingga menjadi dokter spesialis anak, bahkan melanjutkan sebagai konsultan perinatologi dan paru anak. Ia juga aktif sebagai dosen di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Pengalaman bertugas di daerah hingga mendampingi suami di pedalaman Kalimantan Timur menjadi bagian penting yang membentuk kepekaan sosialnya.
Saat ditanya tentang sosok perempuan yang menginspirasi, Reni menempatkan figur-figur perempuan tangguh yang mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat sebagai panutan. Baginya, inspirasi tidak selalu datang dari tokoh besar, tetapi juga dari perempuan sederhana yang bekerja dengan ketulusan dan konsistensi.
Sebagai istri seorang kepala daerah, Reni memaknai perannya bukan sekadar mendampingi secara simbolis. Ia melihat dirinya sebagai mitra strategis yang ikut menjaga keseimbangan kehidupan keluarga sekaligus mendukung tanggung jawab publik suami. Dukungan yang ia berikan hadir dalam bentuk sederhana namun bermakna, mulai dari menjaga komunikasi hingga menjadi tempat bertukar pikiran.
Menurutnya, peran seorang istri sangat penting dalam menjaga stabilitas emosional dan semangat kerja suami. Keharmonisan keluarga menjadi fondasi utama agar seorang pemimpin dapat menjalankan tugasnya dengan optimal. Prinsip saling memahami dan komunikasi terbuka menjadi kunci yang selalu ia terapkan dalam kehidupan rumah tangga.
Lebih luas, Reni memandang perempuan memiliki peran strategis dalam mendukung kepemimpinan, baik di lingkup keluarga maupun pemerintahan. Perempuan, menurutnya, adalah penjaga nilai, penguat moral, sekaligus penggerak perubahan sosial. Hal ini terbukti dari kiprahnya saat menjadi Ketua PKK Kulon Progo, di mana ia menekankan pentingnya lingkungan bersih, tertata, dan bebas dari persoalan kesehatan masyarakat.
Dalam pesannya kepada perempuan Indonesia, khususnya di Yogyakarta, Reni mengajak agar terus berdaya, tidak berhenti belajar, dan berani mengambil peran di berbagai lini kehidupan. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki kekuatan besar untuk membawa perubahan, selama memiliki komitmen dan kepedulian.
Jika Kartini hidup di era sekarang, Reni menilai isu kesehatan, pendidikan, dan kesetaraan akses masih menjadi hal yang relevan untuk diperjuangkan. Termasuk di dalamnya perlindungan anak dari penyakit seperti TBC, yang hingga kini masih menjadi tantangan serius.
Di akhir, Reni berharap generasi perempuan muda mampu menjadi pribadi yang tangguh, cerdas, dan berintegritas. Ia percaya, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas perempuan hari ini—perempuan yang tidak hanya bermimpi, tetapi juga berani mewujudkan perubahan nyata di tengah masyarakat. (int)