Keteladanan Ulama Tarekat dalam Menjaga Tradisi Keilmuan dan Dakwah

Mbah Salman Popongan : Mursyid Naqsyabandiyah yang Menjaga Warisan Spiritual dan Pesantren

tokoh | 25 April 2026 12:35

Mbah Salman Popongan : Mursyid Naqsyabandiyah yang Menjaga Warisan Spiritual dan Pesantren
KH Salman Dahlawi. (dok nuonline)

KLATEN, PustakaJC.co – Nama KH M Salman Dahlawi bukan sekadar tokoh pesantren. Ia adalah mata rantai penting dalam penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Jawa, sekaligus penjaga warisan spiritual keluarga ulama besar dari Popongan, Klaten.

 

Dalam catatan Martin van Bruinessen melalui bukunya Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia (1992), Kiai Salman disebut sebagai mursyid yang sangat dihormati di kalangan kiai tarekat. Ia melanjutkan sanad keilmuan dari kakeknya, KH M Manshur, dan buyutnya, KH Muhammad Hadi Girikusumo, yang dikenal sebagai pelopor penyebaran Naqsyabandiyah Khalidiyah di Jawa. Dilansir dari nu.or.id, Sabtu, (25/4/2026).

 

Lahir pada 1 Maret 1936, Kiai Salman tumbuh di lingkungan Pesantren Popongan, yang kini dikenal sebagai Pesantren Al-Manshur. Sejak kecil, ia ditempa langsung oleh tradisi keilmuan keluarga ulama.

 

Perjalanan intelektualnya terbilang panjang. Ia menimba ilmu di berbagai pesantren, mulai dari Al-Muayyad Surakarta hingga pesantren di Kediri, serta berguru kepada sejumlah ulama besar, termasuk Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani saat menunaikan ibadah haji.

 

 

Dikenal sebagai sosok yang haus ilmu, karakter ini diwarisi dari ayahnya, KH Muhammad Muqri, ulama produktif yang banyak menulis kitab dan menyalin karya ulama klasik.

 

Kiai Salman mulai memikul tanggung jawab besar sejak usia muda. Sekitar usia 20 tahun, ia sudah menggantikan kakeknya sebagai pengasuh pesantren sekaligus mursyid tarekat di Popongan.

 

Di tangannya, pesantren terus berkembang. Sejak 1960-an, berbagai lembaga pendidikan formal berdiri, mulai dari madrasah diniyah hingga madrasah aliyah. Ia menjadi bagian penting generasi ketiga dalam keluarga besar Bani Manshur yang menjaga eksistensi pesantren sejak berdiri tahun 1926.

 

 

 

Selain mengajar, ia aktif membimbing tarekat. Kegiatan suluk rutin digelar tiga kali setahun, sementara tawajuhan berlangsung setiap pekan, menunjukkan peran aktifnya dalam pembinaan spiritual masyarakat.

 

Tak hanya di pesantren, Kiai Salman juga aktif dalam organisasi keagamaan. Ia pernah menjadi bagian dari Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN), serta menjabat Rais Syuriyah dan Mustasyar di Nahdlatul Ulama Kabupaten Klaten.

 

Menariknya, kiprahnya tak berhenti di ranah keagamaan. Ia juga dikenal dekat dengan masyarakat petani. Di Dusun Popongan, Kiai Salman bahkan dikenal sebagai petani yang tekun, sekaligus penggerak pertanian lokal.

 

 

 

 

Di akhir hayatnya, Kiai Salman meninggalkan pesan sederhana namun dalam: taat kepada nasihat, menjaga iman, bersungguh-sungguh mencari ilmu, serta mengedepankan sabar, tawakal, dan rida Allah dalam setiap urusan.

 

Warisan itu kini tak hanya hidup di pesantren, tetapi juga di hati para santri dan masyarakat yang pernah merasakan sentuhan dakwahnya. (ivan)

 

Lahu al-Fatihah.