Warisan Keilmuan dan Sanad Ulama

KH M Salman Dahlawi, Mursyid Naqsyabandiyah dari Popongan yang Mengakar hingga Nusantara

tokoh | 03 Mei 2026 06:40

KH M Salman Dahlawi, Mursyid Naqsyabandiyah dari Popongan yang Mengakar hingga Nusantara
KH Salman Dahlawi. (dok nuonline)

SURABAYA, PustakaJC.co – Nama KH M Salman Dahlawi tak bisa dilepaskan dari perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah di Jawa. Sosok yang akrab disapa Mbah Salman ini dikenal sebagai mursyid kharismatik yang melanjutkan estafet keilmuan dan spiritual dari garis ulama besar Girikusumo.

 

Dalam catatan Martin van Bruinessen melalui bukunya Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia (1992), KH Salman Dahlawi disebut sebagai tokoh yang sangat dihormati di kalangan kiai tarekat. Ia merupakan penerus langsung dari garis mursyid, setelah kakeknya KH M Manshur dan kakek buyutnya KH M Hadi Girikusumo—tokoh pertama yang membawa Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah ke tanah Jawa. Dilansir dari nu.or.id, Minggu, (3/5/2026).

 

Lahir pada Ahad Kliwon, 1 Maret 1936, KH Salman Dahlawi tumbuh di lingkungan pesantren Popongan, Klaten. Sejak kecil, ia telah ditempa dalam tradisi keilmuan kuat oleh sang kakek, Mbah Manshur. Pendidikan formalnya dimulai dari Sekolah Rakyat Tegalgondo, lalu melanjutkan rihlah keilmuan ke berbagai pesantren, seperti Al-Muayyad Surakarta hingga Pesantren Bendo Pare Kediri.

 

Tak berhenti di Jawa, kecintaannya pada ilmu membawanya hingga ke Makkah. Di sana, ia berguru kepada ulama besar, salah satunya Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani. Tradisi keilmuan ini diwarisi dari ayahnya, KH Muhammad Muqri, yang dikenal produktif menulis kitab dan menyalin karya ulama klasik.

 

Sepeninggal Mbah Manshur, KH Salman mengambil peran penting dalam mengembangkan Pesantren Popongan. Bersama keluarga besar Bani Manshur, ia memperkuat sistem pendidikan dengan mendirikan berbagai lembaga formal sejak 1960-an, mulai dari madrasah diniyah hingga aliyah.

 

 

Di sisi lain, ia juga aktif mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Kegiatan spiritual seperti suluk, tawajuhan, hingga baiat rutin digelar dan menarik jamaah dari berbagai daerah. Sanad tarekat yang ia pegang tersambung panjang hingga Rasulullah SAW melalui jalur Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq.

 

Tak hanya di pesantren, KH Salman juga aktif di organisasi keagamaan. Ia pernah menjadi bagian dari Majelis Ifta’ Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN), serta menjabat Rais Syuriyah dan Mustasyar PCNU Klaten.

 

Di tengah masyarakat, ia dikenal sederhana dan membumi. Bahkan, ia turut mengembangkan sektor pertanian di Popongan dan dikenal sebagai petani yang tekun.

 

 

KH Salman Dahlawi meninggalkan sejumlah pesan hidup yang terus dipegang para santri dan keluarganya. Di antaranya pentingnya taat pada nasihat ulama, menjaga iman dan takwa, mencintai ilmu, rajin berjamaah, hingga hidup sabar, tawakal, dan menjaga kerukunan.

 

Jejaknya bukan hanya pada tarekat, tetapi juga pada nilai kehidupan yang sederhana namun dalam: semua bermuara pada ridha Allah SWT. (ivan)

 

Lahu al-Fatihah.