SURABAYA, PustakaJC.co - Fahmi D. Saifuddin dikenal sebagai salah satu tokoh Nahdlatul Ulama yang memiliki loyalitas luar biasa terhadap organisasi. Bahkan, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sampai menjulukinya sebagai “orang NU gila” karena totalitas pengabdiannya kepada NU tanpa mengenal waktu.
Julukan itu muncul dari kisah sederhana namun membekas. Dalam sebuah tulisan, Gus Dur menceritakan bagaimana Fahmi pernah mengajaknya menghadiri kegiatan NU di Tanjung Priok pada pukul 01.00 dini hari. Menurut Gus Dur, orang yang memikirkan NU sampai lewat tengah malam bukan lagi sekadar “gila organisasi”, melainkan “orang NU gila”. Dilansir dari nu.or.id, Senin, (11/5/2026).
Lahir di Baledono, Purworejo, 18 Oktober 1942, Fahmi merupakan putra pertama pasangan Saifuddin Zuhri dan Nyai Hj Siti Solichah, tokoh NU asal Jawa Tengah. Lingkungan keluarga pesantren membuatnya tumbuh dekat dengan tradisi ke-NU-an sejak kecil.
Masa kecil Fahmi penuh perjuangan. Saat Agresi Militer II tahun 1948, ia sempat terpisah dari rombongan pengungsi keluarganya akibat serangan tentara Belanda. Beruntung, seorang anggota Hizbullah menemukan Fahmi kecil dan mengantarnya kembali kepada keluarganya.
Pendidikan Fahmi ditempuh di berbagai pesantren dan sekolah umum. Ia pernah mondok di Pesantren Al-Munawwir Krapyak sebelum melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1962.
Saat menjadi mahasiswa, Fahmi aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII dan tercatat sebagai Ketua PC PMII DKI Jakarta pertama. Kiprahnya di organisasi mahasiswa Islam itu menjadikannya dekat dengan generasi muda NU.
Tak hanya aktif berorganisasi, Fahmi juga dikenal memiliki jiwa sosial tinggi. Ketika membuka praktik dokter di Jakarta, banyak kader PMII yang berobat kepadanya tanpa dipungut biaya. Bahkan, ia kerap membantu uang obat maupun transportasi bagi aktivis muda NU.
Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Fahmi pernah menjadi Ketua PBNU selama tiga periode mendampingi Gus Dur. Ia termasuk tokoh penting dalam gerakan “Kembali ke Khittah 1926”, yang mengembalikan NU sebagai organisasi sosial keagamaan.
Pada 1986, Fahmi juga ikut merintis berdirinya Lakpesdam NU sebagai lembaga pengembangan sumber daya manusia dan kajian strategis NU. Gagasannya banyak berpengaruh dalam penguatan intelektual warga Nahdliyin.
Selain dikenal sebagai organisatoris, Fahmi juga memiliki prestasi akademik mentereng. Ia meraih gelar Master of Public Health dari Johns Hopkins University dan pernah menjabat Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI selama tiga periode.
Fahmi wafat pada 3 Maret 2002. Kepergiannya meninggalkan kehilangan besar bagi warga NU dan dunia akademik Indonesia. Sosoknya dikenang sebagai dokter, intelektual, sekaligus kader NU yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk organisasi. (ivan)