Fatimah Al-Banjari

Mutiara Ilmu dari Tanah Banjar

tokoh | 29 Mei 2026 12:40

Mutiara Ilmu dari Tanah Banjar
Kitab Perukunan yang diduga kuat ditulis salah satunya oleh Syekhah Fatimah al-Banjari. (dok nuonline)

BANJAR, PustakaJC.co - Fatimah Al-Banjari menjadi salah satu sosok ulama perempuan Nusantara yang kontribusinya masih jarang diketahui publik. Padahal, namanya diyakini memiliki kaitan erat dengan lahirnya Kitab Perukunan, kitab dasar keislaman berbahasa Melayu yang telah lama diajarkan di berbagai pesantren dan masyarakat Muslim Banjar.

 

Fatimah lahir pada 1775 M dari pasangan Syarifah dan Syekh Abdul Wahab Bugis. Sejak kecil ia tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama besar. Setelah ayahnya wafat saat dirinya berusia 11 tahun, pendidikan Fatimah dilanjutkan oleh sang kakek, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Dilansir dari nu.or.id, Jumat, (29/5/2026).

 

Lingkungan keluarga yang kuat dalam tradisi ilmu pengetahuan membentuk Fatimah menjadi perempuan alim. Ia bahkan dikenal aktif mengajar agama bersama ibunya kepada kaum perempuan di sekitarnya.

 

Dari tradisi keilmuan itulah lahir Kitab Perukunan atau yang kemudian dikenal sebagai Perukunan Jamaludin. Kitab ini berisi pembahasan dasar-dasar Islam seperti thaharah, shalat, puasa hingga tauhid dengan bahasa Melayu yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat.

 

 

Meski nama Fatimah tidak tercantum secara langsung dalam kitab tersebut, banyak riwayat menyebut dirinya sebagai penulis utama naskah awalnya. Sementara nama Mufti Jamaluddin, pamannya, disebut sebagai pihak yang menyempurnakan isi kitab sehingga masyarakat kemudian lebih mengenalnya dengan nama Perukunan Jamaludin.

 

Sejumlah peneliti menilai tidak munculnya nama Fatimah berkaitan dengan budaya patriarki pada masa itu. Karya perempuan dinilai belum mudah diterima sebagai rujukan keagamaan di tengah masyarakat.

 

Sejarawan Belanda Martin van Bruinessen bahkan menilai kitab tersebut memiliki pendekatan yang cukup netral terhadap perempuan. Dalam pembahasan haid misalnya, tidak ditemukan narasi yang merendahkan perempuan sebagaimana lazim ditemukan pada sebagian teks klasik lain.

 

Sementara peneliti UIN Antasari Banjarmasin, Saifuddin, menemukan bukti kuat bahwa Fatimah memang merupakan penulis Kitab Perukunan Melayu. Salah satu rujukannya berasal dari karya Syajarat al-Arsyadiyyah tulisan Syekh Abd al-Rahman Shiddiq yang secara jelas menyebut Fatimah sebagai penulisnya.

 

Saifuddin bahkan menyebut Fatimah sebagai “Mutiara Khatulistiwa yang Terlupakan”. Julukan itu menggambarkan besarnya kontribusi Fatimah dalam khazanah keilmuan Islam Nusantara yang selama ini kurang mendapat perhatian.

 

 

Kini, makam Fatimah berada di Tungkaran, Martapura. Meski namanya sempat tenggelam dalam sejarah, warisan ilmunya tetap hidup melalui Kitab Perukunan yang hingga kini masih dipelajari di sekolah dan pesantren.

 

Fatimah mungkin tidak mengejar pengakuan. Namun karya dan ketekunannya dalam menuntut ilmu menjadikannya salah satu ulama perempuan penting dalam sejarah Islam Nusantara. (ivan)