Sutamii

Menteri PU Legendaris "Termiskin" Era Orba yang Tinggalkan Warisan Megaproyek Nasional

tokoh | 29 Juni 2026 10:40

Menteri PU Legendaris
Dok historia

SURABAYA, PustakaJC.co – Di tengah maraknya sorotan terhadap integritas pejabat publik dalam mengelola proyek infrastruktur bernilai besar, nama Menteri Pekerjaan Umum era Orde Baru, Sutami, kembali menjadi perhatian. Sosok yang memimpin pembangunan berbagai megaproyek nasional itu justru dikenang karena kesederhanaannya hingga mendapat julukan "Menteri Termiskin."

 

Selama sekitar 14 tahun menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum dalam delapan kabinet, Sutami dikenal tidak pernah memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri. Padahal, kementerian yang dipimpinnya menangani berbagai proyek strategis nasional dengan anggaran yang sangat besar.

 

Bagi Sutami, jabatan merupakan amanah untuk melayani rakyat. Ia meyakini pejabat negara tidak pantas hidup bermewah-mewahan ketika masih banyak masyarakat hidup dalam keterbatasan.

 

Menurut berbagai catatan sejarah, salah satu bentuk kesederhanaannya terlihat saat melakukan kunjungan kerja ke daerah. Ia kerap memilih berjalan kaki meninjau proyek-proyek infrastruktur, terutama di wilayah pedesaan dan pelosok, agar dapat melihat langsung kondisi lapangan sekaligus memudahkan penyelesaian berbagai persoalan yang ditemukan.

 

 

Pendekatan tersebut membuat pembangunan yang dipimpinnya lebih berorientasi pada kepentingan masyarakat. Sutami menilai pembangunan infrastruktur di daerah menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dibanding hanya berfokus pada kawasan industri.

 

Meski memimpin sektor yang identik dengan proyek bernilai besar, Sutami tetap hidup sederhana. Bahkan hingga mengakhiri masa jabatannya pada 1978, ia belum memiliki rumah pribadi. Rumah yang akhirnya dimilikinya pun dibeli melalui sistem cicilan setelah tidak lagi menjabat sebagai menteri.

 

Kondisi ekonominya bahkan pernah membuat aliran listrik di rumahnya diputus karena tidak mampu membayar tagihan. Saat kesehatannya menurun akibat penyakit liver kronis, Sutami juga sempat enggan menjalani perawatan di rumah sakit karena khawatir tidak sanggup membayar biaya pengobatan.

 

 

Kondisi tersebut akhirnya diketahui Presiden Soeharto yang kemudian meminta agar seluruh biaya pengobatan Sutami ditanggung pemerintah. Namun, perjuangannya melawan penyakit tidak berhasil dan ia meninggal dunia pada 13 November 1980.

 

Meski telah wafat, dedikasi Sutami terhadap pembangunan Indonesia tetap dikenang. Sejumlah proyek infrastruktur strategis yang dibangun pada masa kepemimpinannya hingga kini masih menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat, seperti Tol Jagorawi, Jembatan Semanggi, Jembatan Ampera, serta berbagai proyek nasional lainnya.

 

Warisan terbesar Sutami bukan hanya deretan infrastruktur yang masih berdiri kokoh, tetapi juga teladan tentang integritas, kesederhanaan, dan pengabdian seorang pejabat negara yang menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. (int)