Minim Transportasi Publik, Legislator Sebut Wisatawan Enggan Datang ke Indonesia

wisata | 23 Oktober 2025 17:59

Minim Transportasi Publik, Legislator Sebut Wisatawan Enggan Datang ke Indonesia
Minimnya koneksi transportasi publik di beberapa daerah wisata di Indonesia, membuat dalam 8 bulan pertama di Tahun 2025, Indonesia Hanya dikunjungi 10 juta wisatawan. (dok surabayapagi)

SURABAYA, PustakaJC.co – Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menyoroti lemahnya konektivitas transportasi publik di daerah wisata yang dinilai menghambat minat wisatawan berkunjung ke Indonesia.

 

Dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Diseminasi Pemasaran Pariwisata Digital yang digelar Kementerian Pariwisata bersama Komisi VII DPR RI di Pasuruan, Selasa, (14/10/2025), Bambang menyebut, negara tetangga jauh lebih siap dalam menyediakan sistem transportasi yang terhubung langsung ke destinasi wisata. Dilansir dari surabayapagi.com, Kamis, (23/10/2025).

 

“Destinasi wisata kita butuh akses transportasi publik yang terintegrasi. Banyak turis asing enggan datang karena negara lain sudah punya sistem transportasi yang memadai,” ujar Bambang.

 

 

 

Ia mencontohkan kondisi di Bali yang kini mengalami kepadatan lalu lintas dan ketidaknyamanan akibat minimnya transportasi umum.

 

“Bali sekarang overload karena wisatawan harus pakai kendaraan pribadi. Ini harus segera dibenahi,”tegasnya.

 

Menurut Bambang, transportasi publik yang efisien menjadi kunci agar Indonesia mampu bersaing secara global. Selama delapan bulan pertama tahun 2025, Indonesia baru dikunjungi 10 juta wisatawan, jauh tertinggal dari Malaysia yang mencatat 28,2 juta kunjungan.

 

 

“Potensi kita luar biasa. Ada ribuan destinasi alam dan budaya. Negara lain bisa menargetkan puluhan juta turis, masa kita kalah dengan potensi sebesar ini,” tambahnya.

 

 

 

Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk peran hotel, restoran, pelaku ekonomi kreatif, hingga pekerja migran Indonesia (TKI) untuk ikut mempromosikan pariwisata lokal.

 

“Kita punya 300 ribu restoran dan ratusan ribu hotel yang bisa jadi corong promosi. Bahkan kalau satu TKI menargetkan dua wisatawan saja, jutaan turis bisa datang,” pungkasnya. (ivan)