NGANJUK, PustakaJC.co - Dentuman misterius yang pernah mengguncang lereng Gunung Wilispada 2011 belum sepenuhnya hilang dari ingatan warga Dusun Sumber Tumpeng, Desa Margopatut, Kecamatan Sawahan. Suara keras dari dalam tanah itu bukan letusan, tetapi cukup untuk membuat bumi bergetar dan meninggalkan pertanyaan panjang. Kini, di lokasi yang sama, pemerintah merancang pembangunan Bendungan Margopatut—sebuah proyek strategis yang kembali mengundang perhatian.
Secara ilmiah, fenomena dentuman itu telah dijelaskan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika(BMKG) menyatakan peristiwa tersebut merupakan gempa tektonik dangkal. Sementara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut dentuman kemungkinan berasal dari pergerakan atau tumbukan blok batuan bawah tanah akibat pelapukan, bukan aktivitas vulkanik. Dilansir dari bhirawaonline.co.id, Sabtu, (28/1/2026).
Dengan demikian, secara sains tidak ditemukan indikasi letusan atau aktivitas gunung berapi. Gunung Wilis sendiri dikenal sebagai gunung purba yang membentang di lima wilayah, yakni Kabupaten Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Ponorogo, dan Trenggalek.
Namun di luar penjelasan ilmiah, masyarakat setempat masih menyimpan keyakinan yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya tentang keterhubungan sumber air di wilayah mereka dengan Telaga Ngebel di Ponorogo.
“Itu cerita dari para pendahulu, orang-orang sepuh. Mitosnya memang Telaga Ngebel tembus dengan telaga yang ada di Sumber Tumpeng,” ujar Kamituwo Sumber Tumpeng saat dikonfirmasi, Jumat (27/2/2026).
Kepercayaan itu diperkuat oleh tradisi ritual larung sesaji di Telaga Ngebel. Sebagian warga meyakini sesaji yang dihanyutkan memiliki keterkaitan simbolik dengan sumber air di wilayah lereng Wilis, termasuk di kawasan yang kini direncanakan menjadi lokasi bendungan.
Di tengah dua narasi—ilmiah dan kultural—pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas dan Pemkab Nganjuk telah merancang pembangunan Bendungan Margopatut sejak 2008. Proyek ini diharapkan menjadi solusi pengendalian banjir, penyedia air baku, serta mendukung irigasi pertanian.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Nganjuk telah melaksanakan berbagai tahapan teknis, termasuk Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED). FS bertujuan menilai kelayakan proyek secara teknis, ekonomis, dan hukum, sedangkan DED merupakan tahapan penyusunan desain teknis rinci sebagai pedoman konstruksi.
Pemerintah bahkan telah mengalokasikan anggaran signifikan untuk perencanaan tersebut. Pada 2020, anggaran sebesar Rp3,2 miliar digunakan untuk penyusunan DED. Kemudian pada 2025, Pemkab Nganjuk kembali menganggarkan Rp4 miliar untuk jasa konsultasi review FS.
Langkah ini menunjukkan bahwa proyek bendungan bukan sekadar wacana, tetapi telah memasuki tahap perencanaan matang secara administratif dan teknis.
Secara fungsi, bendungan merupakan infrastruktur vital. Selain mengendalikan aliran air, bendungan juga berperan dalam menjaga ketahanan air dan mendukung sektor pertanian. Namun secara geologis, kawasan kaki Gunung Wilis memiliki dinamika tektonik lokal yang tidak bisa diabaikan.
Dentuman 2011 menjadi catatan bahwa wilayah tersebut pernah mengalami pelepasan energi bawah tanah dalam bentuk gempa dangkal. Meski berskala kecil dan tidak menimbulkan kerusakan besar, peristiwa itu menjadi pengingat bahwa wilayah tersebut memiliki karakter geologi aktif.
Hal ini menjadikan pembangunan bendungan di kawasan tersebut membutuhkan kajian geologi yang benar-benar komprehensif, termasuk mitigasi risiko jangka panjang.
Bendungan Margopatut kini berada di titik persimpangan antara kebutuhan pembangunan dan kehati-hatian terhadap karakter alam. Di satu sisi, bendungan menawarkan manfaat nyata bagi masyarakat, mulai dari pengendalian banjir hingga penyediaan air. Di sisi lain, catatan geologi masa lalu menjadi pengingat bahwa setiap pembangunan harus mempertimbangkan kondisi alam secara menyeluruh.
Bagi warga Sumber Tumpeng, dentuman Wilis bukan sekadar peristiwa lama. Ia adalah memori kolektif yang masih hidup—pengingat bahwa di balik ketenangan lereng gunung, bumi pernah bersuara. (ivan)