SURABAYA, Pustaka JC.co — Taman Harmoni Keputih kini menjadi salah satu destinasi wisata alternatif yang tidak hanya menawarkan rekreasi, tetapi juga sarana edukasi lingkungan bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan pelajar, Senin (6/4/2026).
Koordinator pengelola Taman Harmoni, Bagus Ali Rohman, menyampaikan bahwa taman ini kerap dikunjungi rombongan anak usia dini hingga sekolah dasar dari berbagai wilayah di Surabaya. Kunjungan tersebut tidak sekadar untuk berwisata, melainkan juga sebagai media pembelajaran interaktif di ruang terbuka hijau. Demikian dilansir dari jatim.antaranews.com, Senin (6/4/2026).
“Anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar langsung mengenal lingkungan, satwa, serta memahami transformasi kawasan ini yang dulunya merupakan tempat pembuangan akhir,” ujarnya.
Diketahui, kawasan ini sebelumnya merupakan TPA Keputih yang beroperasi sejak 1970-an dan ditutup pada 2001 seiring berkembangnya permukiman. Lahan tersebut kemudian direvitalisasi melalui penanaman bambu untuk menyerap gas metana, serta pengurukan tanah secara bertahap hingga akhirnya diresmikan sebagai taman kota pada 2019 dan diperbarui pada 2025.
Namun demikian, pengelolaan taman ini memiliki tantangan tersendiri. Kondisi tanah bekas timbunan sampah yang labil membuat perawatan harus dilakukan secara berkala, termasuk perbaikan jalur pedestrian dan penambahan lapisan tanah setiap beberapa tahun.
Taman seluas 8,5 hektare ini dibuka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 17.00 WIB dengan akses gratis. Beragam fasilitas tersedia, mulai dari taman bunga, jalur pejalan kaki, hingga area terbuka untuk aktivitas luar ruang.
Selain itu, terdapat pula area edukasi satwa yang menghadirkan berbagai hewan seperti kuda, rusa, kelinci, dan ayam kate, yang semakin menambah daya tarik bagi pengunjung.
Mengusung konsep “Harmony of the World”, taman ini terbagi dalam enam zona bertema benua. Pengunjung dapat menikmati nuansa Asia dengan koridor bambu dan gerbang khas Jepang, hingga zona Afrika dan Timur Tengah yang menampilkan replika Sphinx dan balon udara ala Kapadokia.
Zona lainnya menghadirkan miniatur bangunan Eropa, area koboi khas Amerika, satwa ikonik Australia seperti kanguru dan koala, hingga replika igloo dan patung penguin di Antarktika.
Untuk menunjang kenyamanan, tersedia pula area kuliner Pasar Sorpring yang menghadirkan aneka makanan tradisional dari pelaku UMKM lokal di bawah rindangnya pohon bambu.
Sementara itu, dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Negeri Surabaya, Naimah Putri Kamila, menilai transformasi eks TPA menjadi ruang terbuka hijau merupakan langkah strategis dalam pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, keberhasilan revitalisasi Taman Harmoni menunjukkan bahwa lahan dengan citra negatif tetap dapat dimanfaatkan menjadi ruang produktif, selama didukung kajian teknis yang matang.
“Hal ini bisa direplikasi di daerah lain, terutama di wilayah dengan keterbatasan lahan, asalkan memenuhi syarat teknis dan didukung komitmen pemerintah daerah,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan proyek semacam ini membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, mulai dari teknik sipil, geologi, hingga perencanaan wilayah.
Kini, Taman Harmoni tidak hanya menjadi ruang rekreasi, tetapi juga simbol keberhasilan pemanfaatan kembali lahan eks TPA menjadi kawasan yang bermanfaat dan edukatif bagi masyarakat perkotaan. (frcn)