SURABAYA, PustakaJC.co - Tersembunyi di lereng Gunung Lawu, Candi Kethek menjadi saksi bisu praktik spiritual di masa akhir Kerajaan Majapahit yang kini mulai terlupakan.
Berada di kawasan hutan pinus di Karanganyar, Jawa Tengah, candi ini tidak setenar Candi Sukuh maupun Candi Cetho. Namun justru di situlah letak keunikannya—sunyi, sakral, dan penuh misteri sejarah. Candi Kethek berdiri di ketinggian sekitar 1.400 mdpl dan hanya bisa diakses dengan berjalan kaki dari kawasan Cetho.
Secara arsitektur, candi ini berbentuk punden berundak, yakni struktur bertingkat yang menjadi ciri khas bangunan pada masa akhir Majapahit. Para arkeolog memperkirakan Candi Kethek dibangun pada abad ke-15 hingga 16, saat pengaruh Hindu di Jawa mulai meredup dan terjadi peralihan menuju era Islam.
Berbeda dengan candi megah lainnya, struktur di sini cenderung sederhana. Namun kesederhanaan itu justru menunjukkan fungsi utamanya bukan sebagai pusat kerajaan, melainkan tempat ritual spiritual yang lebih privat dan sakral.
Salah satu temuan penting di lokasi ini adalah arca kura-kura yang merupakan simbol Dewa Wisnu dalam kisah Samudramanthana. Kisah ini menggambarkan proses “pengadukan lautan” untuk memperoleh air kehidupan, yang dalam konteks Jawa kuno dimaknai sebagai proses penyucian diri.
Dari simbol tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa Candi Kethek berfungsi sebagai tempat peruwatan—ritual untuk membersihkan diri dari dosa atau energi negatif.
Menariknya, kawasan lereng Gunung Lawu memang dikenal sebagai pusat spiritual pada masa akhir Majapahit. Banyak candi dibangun di wilayah ini sebagai tempat pertapaan, termasuk Candi Sukuh yang juga memiliki nuansa simbolik dan ritual kuat.
Sejumlah sejarawan bahkan meyakini kawasan ini menjadi lokasi penting bagi para bangsawan atau tokoh spiritual yang ingin “melepaskan diri” dari kehidupan duniawi di masa runtuhnya Majapahit.
Meski memiliki nilai sejarah tinggi, Candi Kethek masih jarang dikunjungi dan belum banyak dikenal publik. Akses yang cukup menantang serta minimnya fasilitas membuat situs ini tetap terjaga keasliannya, namun juga kurang mendapat perhatian.
Kini, keberadaan candi ini menjadi pengingat penting tentang fase akhir peradaban besar Nusantara. Lebih dari sekadar situs sejarah, tempat ini menyimpan jejak spiritualitas yang menjadi bagian dari identitas budaya bangsa.
Candi Kethek bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga simbol perjalanan batin manusia dalam mencari kesucian dan makna hidup. (int)