SURABAYA, PustakaJC.co – Bukit Gunungsari di kawasan Surabaya Selatan menyimpan catatan penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Lokasi yang berada di tepi Kali Surabaya, anak Sungai Brantas, itu menjadi benteng pertahanan terakhir Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) saat berlangsungnya Pertempuran Surabaya pada November 1945, Rabu (3/6/2026).
"Lini Gunungsari menjadi garis pertahanan terakhir dalam mempertahankan Kota Surabaya dari serangan Inggris. TKR dan Tentara Pelajar bertempur dengan gagah berani di kawasan Lapangan Golf Gunungsari," ujarnya. Demikian dikutip dari radarsurabaya.jawapos.com, Rabu (3/6/2026).
Ketua Begandring Soerabaia, Achmad Zaki Yamani, menjelaskan bahwa pada 28 November 1945 garis pertempuran bergeser ke wilayah selatan kota. Pasukan Inggris yang didukung kekuatan darat, laut, dan udara melancarkan serangan besar-besaran melalui Divisi India ke-5 yang dikenal dengan julukan Ball of Fire.
Pertempuran sengit terjadi di sejumlah titik, mulai Kedungdoro, Keputran, hingga Pandegiling. Pada siang hari, tank-tank Sherman bergerak menyerang ke arah Gunungsari dan Waru. Para pejuang Surabaya menghadapi gempuran tersebut dengan perlawanan yang gigih.
Menurut Zaki, jejak roda tank Sherman bahkan sempat membekas di sejumlah ruas jalan di kawasan pertempuran. Sebuah meriam beserta awaknya juga dilaporkan hangus terbakar dalam pertempuran tersebut. Sementara itu, meriam pertahanan udara yang dioperasikan para pejuang berhasil menjatuhkan beberapa pesawat tempur Thunderbolt milik Inggris.
Dalam pertempuran itu, tembakan tank Sherman menghantam lubang-lubang pertahanan para pejuang. Tercatat lima anggota Tentara Pelajar gugur. Kerangka dan perlengkapan tempur mereka baru ditemukan pada tahun 1980. Sementara itu, sekitar 10 anggota TKR dan Tentara Pelajar yang hilang di kawasan Gunungsari tidak pernah ditemukan hingga kini.
Puncak pertempuran terjadi pada 30 November 1945 di kawasan Gunungsari dan Jembatan Wonokromo. Berbagai fasilitas, kendaraan, hingga perlengkapan militer dibakar agar tidak jatuh ke tangan musuh. Rencana peledakan Jembatan Wonokromo pun gagal dilaksanakan akibat cepatnya laju serangan pasukan Inggris.
Setelah pertahanan Gunungsari dan Wonokromo berhasil ditembus, berbagai markas perjuangan dipindahkan ke luar Surabaya. Markas kepolisian dan pemerintahan sipil dipindahkan ke Sepanjang dan Mojokerto, sementara sejumlah markas pertahanan lainnya berpindah ke Wringinanom, Jeris Parengan, Karangpilang, hingga Sidoarjo.
Zaki menegaskan bahwa jatuhnya Gunungsari dan Wonokromo menandai berakhirnya Pertempuran Surabaya yang berlangsung selama 21 hari. Setelah seluruh wilayah kota dikuasai pasukan Inggris, pertempuran berlanjut di daerah-daerah sekitar Surabaya dan dikenal oleh pihak Inggris sebagai Surabaya Front serta oleh Belanda sebagai Surabaya Sector.
Hingga kini, Bukit Gunungsari menjadi salah satu saksi bisu perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari upaya pendudukan kembali oleh pasukan Sekutu. (frchn)