Puncak pertempuran terjadi pada 30 November 1945 di kawasan Gunungsari dan Jembatan Wonokromo. Berbagai fasilitas, kendaraan, hingga perlengkapan militer dibakar agar tidak jatuh ke tangan musuh. Rencana peledakan Jembatan Wonokromo pun gagal dilaksanakan akibat cepatnya laju serangan pasukan Inggris.
Setelah pertahanan Gunungsari dan Wonokromo berhasil ditembus, berbagai markas perjuangan dipindahkan ke luar Surabaya. Markas kepolisian dan pemerintahan sipil dipindahkan ke Sepanjang dan Mojokerto, sementara sejumlah markas pertahanan lainnya berpindah ke Wringinanom, Jeris Parengan, Karangpilang, hingga Sidoarjo.
Zaki menegaskan bahwa jatuhnya Gunungsari dan Wonokromo menandai berakhirnya Pertempuran Surabaya yang berlangsung selama 21 hari. Setelah seluruh wilayah kota dikuasai pasukan Inggris, pertempuran berlanjut di daerah-daerah sekitar Surabaya dan dikenal oleh pihak Inggris sebagai Surabaya Front serta oleh Belanda sebagai Surabaya Sector.
Hingga kini, Bukit Gunungsari menjadi salah satu saksi bisu perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari upaya pendudukan kembali oleh pasukan Sekutu. (frchn)