Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Indonesia kini membidik posisi puncak sebagai destinasi wisata ramah Muslim terbaik dunia pada tahun mendatang.
Jawa Timur pun tidak ingin sekadar menjadi penonton dalam perjalanan besar tersebut.
Berbagai terobosan terus dilakukan, salah satunya melalui kerja sama dengan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), perguruan tinggi, serta pesantren untuk memperluas pendampingan sertifikasi halal bagi destinasi wisata.
Kolaborasi tersebut menjadi upaya untuk membangun ekosistem wisata yang tidak hanya nyaman bagi wisatawan Muslim, tetapi juga memiliki daya saing di tingkat global.
“Kerja sama dengan ISNU, perguruan tinggi dan pesantren terus kami lakukan dalam pendampingan sertifikasi halal menuju destinasi yang ramah Muslim. Evaluasi juga terus dilakukan secara berkelanjutan agar standar wisata ramah Muslim tetap terjaga,” kata Evy.
Pada akhirnya, wisata ramah Muslim bukan hanya soal tersedianya musala, makanan halal, atau sertifikat yang terpajang di dinding. Lebih dari itu, wisata ramah Muslim adalah tentang menghadirkan rasa aman, nyaman, dan penghormatan terhadap nilai-nilai yang diyakini wisatawan.
Di tanah para wali yang menyimpan jejak panjang sejarah Islam Nusantara ini, Jawa Timur terus memperkuat posisinya sebagai salah satu gerbang wisata ramah Muslim Indonesia. Sebuah ikhtiar yang tidak hanya mendukung target nasional menjadi yang terbaik di dunia, tetapi juga memastikan bahwa setiap musafir yang datang pulang membawa pengalaman yang berkesan.
(int)