Menyambut Musafir Dunia di Tanah Para Wali: Jejak Jawa Timur di Balik Kebangkitan Wisata Ramah Muslim Indonesia

wisata | 23 Juni 2026 18:25

Menyambut Musafir Dunia di Tanah Para Wali: Jejak Jawa Timur di Balik Kebangkitan Wisata Ramah Muslim Indonesia
Dok infografis kreatif tim PustakaJC.co

SURABAYA, PustakaJC.co - Capaian Indonesia yang berhasil menempati peringkat kedua destinasi wisata ramah Muslim terbaik dunia dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 menjadi kabar menggembirakan bagi sektor pariwisata nasional. Di balik prestasi tersebut, Jawa Timur menjadi salah satu daerah yang memiliki kontribusi penting melalui kekuatan wisata religi, jaringan pesantren, serta pengembangan ekosistem wisata halal yang terus diperkuat dalam beberapa tahun terakhir.

 

Provinsi yang dikenal sebagai tanah para wali ini tidak hanya menyimpan ratusan destinasi wisata religi, tetapi juga terus membangun standar pelayanan yang memberikan rasa nyaman bagi wisatawan Muslim. Mulai dari penyediaan fasilitas ibadah, penguatan sertifikasi halal, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia pariwisata menjadi bagian dari ikhtiar tersebut.

 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari, mengatakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat fondasi wisata ramah Muslim melalui berbagai program pendampingan dan pengembangan ekosistem halal di sektor pariwisata.

 

Menurut Evy, penguatan wisata ramah Muslim dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, hingga sertifikasi bagi hotel, restoran, dan destinasi wisata. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan produk dan layanan yang diberikan memenuhi kaidah halal serta memberikan kenyamanan bagi wisatawan.

 

“Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan sosialisasi, pelatihan dan sertifikasi bagi hotel, restoran, dan destinasi wisata melalui penyelia halal yang bertugas melakukan pendampingan serta memastikan produk dan jasa yang diberikan telah memenuhi kaidah halal,” ujarnya.

 

Selain itu, Pemprov Jatim juga mendorong pengembangan pola perjalanan wisata atau travel pattern yang menghubungkan berbagai destinasi ramah Muslim sehingga wisatawan dapat menikmati perjalanan dengan lebih nyaman dan terintegrasi.

 

 

Di Jawa Timur, wisata ramah Muslim bukanlah konsep yang lahir secara instan mengikuti tren global. Ia tumbuh dari akar budaya dan kehidupan masyarakat yang telah lama menjadikan nilai-nilai Islam sebagai bagian dari keseharian.

 

Komitmen tersebut bahkan telah tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Jawa Timur yang memasukkan pengembangan wisata religi dan wisata halal sebagai bagian dari arah pembangunan sektor pariwisata daerah.

 

Saat ini terdapat sekitar 190 daya tarik wisata religi yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur. Angka tersebut menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia.

 

Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur juga menunjukkan sekitar 27 persen wisatawan yang datang ke Jawa Timur melakukan perjalanan wisata religi.

 

Mereka datang menapaki jejak para wali, mengunjungi pesantren bersejarah, berziarah ke makam tokoh-tokoh Islam, hingga menikmati berbagai tradisi budaya yang tumbuh berdampingan dengan nilai-nilai keagamaan.

 

Namun bagi Evy, kekuatan wisata ramah Muslim tidak cukup hanya mengandalkan warisan sejarah dan budaya.

 

Karena itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur terus melakukan pendampingan terhadap destinasi wisata agar memiliki fasilitas ibadah yang layak, sarana pendukung yang memadai, serta layanan yang sesuai dengan standar wisata ramah Muslim.

 

Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian utama agar para pelaku wisata memahami kebutuhan wisatawan Muslim, termasuk wisatawan mancanegara.

 

 

Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Indonesia kini membidik posisi puncak sebagai destinasi wisata ramah Muslim terbaik dunia pada tahun mendatang.

 

Jawa Timur pun tidak ingin sekadar menjadi penonton dalam perjalanan besar tersebut.

 

Berbagai terobosan terus dilakukan, salah satunya melalui kerja sama dengan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), perguruan tinggi, serta pesantren untuk memperluas pendampingan sertifikasi halal bagi destinasi wisata.

 

Kolaborasi tersebut menjadi upaya untuk membangun ekosistem wisata yang tidak hanya nyaman bagi wisatawan Muslim, tetapi juga memiliki daya saing di tingkat global.

 

“Kerja sama dengan ISNU, perguruan tinggi dan pesantren terus kami lakukan dalam pendampingan sertifikasi halal menuju destinasi yang ramah Muslim. Evaluasi juga terus dilakukan secara berkelanjutan agar standar wisata ramah Muslim tetap terjaga,” kata Evy.

 

Pada akhirnya, wisata ramah Muslim bukan hanya soal tersedianya musala, makanan halal, atau sertifikat yang terpajang di dinding. Lebih dari itu, wisata ramah Muslim adalah tentang menghadirkan rasa aman, nyaman, dan penghormatan terhadap nilai-nilai yang diyakini wisatawan.

 

Di tanah para wali yang menyimpan jejak panjang sejarah Islam Nusantara ini, Jawa Timur terus memperkuat posisinya sebagai salah satu gerbang wisata ramah Muslim Indonesia. Sebuah ikhtiar yang tidak hanya mendukung target nasional menjadi yang terbaik di dunia, tetapi juga memastikan bahwa setiap musafir yang datang pulang membawa pengalaman yang berkesan.

(int)