Teknologi Tradisional hingga Industri Gula
Sementara itu, akademisi Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang Dr. Reza Hudiyanto menguraikan perkembangan teknologi produksi gula dari metode tradisional hingga industri pada era kolonial.
Produksi gula tradisional memiliki sejumlah tahapan, mulai dari pemerasan tebu, pemurnian, penguapan, kristalisasi, drainase, hingga pengeringan sebelum gula dipasarkan.
Pada tahap pemerasan, batang tebu diproses menggunakan alat penggiling dengan tenaga sapi untuk menghasilkan cairan nira.
Cairan tersebut kemudian dimurnikan dan dipanaskan menggunakan kawah besi cor dengan bahan bakar kayu sebelum melalui proses kristalisasi.
“Metode tradisional menghasilkan rendemen nira yang sangat rendah serta terbukti boros bahan bakar kayu,” demikian paparan Reza.
Keterbatasan teknologi tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang mendorong transformasi industri gula.
Perkembangan riset sains, modal swasta, serta efisiensi manajemen membawa industri gula Jawa memasuki periode perkembangan pesat.
Reza mencatat, pada awal abad ke-20 Jawa bahkan berkembang menjadi salah satu produsen gula terbesar dan paling efisien di dunia.
Perkembangan tersebut tidak terlepas dari riset pertanian dan modernisasi teknologi pengolahan.
Paparan Reza juga menunjukkan sejumlah fase perkembangan industri gula Jawa, mulai dari periode awal pembudidayaan, era VOC, Sistem Tanam Paksa 1830, privatisasi setelah 1870, hingga masa keemasan industri gula pada awal abad ke-20.
Dalam Sistem Tanam Paksa, penduduk diwajibkan menyediakan sebagian lahan pertanian yang sesuai untuk tanaman tebu.
Perkembangan industri kemudian mengalami perubahan setelah pemerintah kolonial secara bertahap menarik diri dan sektor swasta mengambil alih sejumlah tahapan produksi.