Sejarah Gula Jawa Lebih Tua dari Pabrik Kolonial
Akademisi Departemen Antropologi FIB Universitas Brawijaya Ary Budiyanto menjelaskan, sejarah gula Jawa selama ini sering dikaitkan dengan perkebunan tebu dan pabrik gula pada masa kolonial.
Padahal, pemanfaatan sumber pemanis di Jawa telah berlangsung jauh sebelum kemunculan industri gula modern.
“Sejarah gula Jawa lebih tua daripada pabrik kolonial,” kata Ary dalam paparannya.
Menurutnya, sejarah tersebut dapat ditelusuri melalui konsep “peradaban nira”, yaitu sistem pengetahuan masyarakat dalam memperoleh, mengolah, menyimpan, dan memanfaatkan sari manis dari berbagai tumbuhan tropis.
Sumber pemanis tersebut tidak hanya berasal dari tebu. Kelapa, aren, lontar atau siwalan, serta nipah juga menjadi bagian dari keragaman sumber nira yang berkembang di Nusantara.
“Peradaban nira” menunjukkan keterkaitan antara ekologi, teknologi pangan, budaya, bahasa, ritual, pengobatan, dan kebiasaan makan masyarakat.
Untuk merekonstruksi sejarah tersebut, kajian dilakukan dengan memadukan berbagai sumber. Di antaranya relief candi, naskah sejarah dan filologi, koleksi teknologi gula di museum, arsip visual, serta etnografi mengenai pemanfaatan gula aren, kelapa, siwalan, dan nipah.
Ary juga menjelaskan bahwa Jawa tidak berdiri sendiri dalam perkembangan teknologi gula. Nusantara berada dalam jaringan pertukaran pengetahuan Asia yang melibatkan mobilitas tanaman, manusia, teknologi, istilah, dan keterampilan.
India disebut menjadi salah satu wilayah yang mengembangkan beragam teknologi pengolahan gula. Jaringan perdagangan dan penyebaran agama Buddha turut menjadi jalur mobilitas pengetahuan menuju sejumlah wilayah Asia, termasuk Asia Tenggara dan Cina.
Relief Candi Borobudur juga dapat digunakan sebagai salah satu sumber untuk membaca lanskap pangan dan tumbuhan masyarakat Jawa Kuna.