Menag Ajak 72 Juta Santri Berzakat Lewat Green Zakat Framework BSI

bumi pesantren | 28 Agustus 2025 06:12

Menag Ajak 72 Juta Santri Berzakat Lewat Green Zakat Framework BSI
Menteri Agama Nasuruddin Umar. (dok kemenag)

JAKARTA, PustakaJC.co - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak 72 juta santri di Indonesia untuk berzakat dan berwakaf melalui Green Zakat Framework yang dikembangkan Bank Syariah Indonesia (BSI). Menurutnya, potensi ini bisa menjadi kekuatan ekonomi umat sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.

“Santri itu jumlahnya 72 juta termasuk gurunya. Kalau semuanya berwakaf melalui BSI, dengan program seperti ini, itu dahsyat. Bisa meloncati bank-bank yang ada,” ujar Menag saat menjadi keynote speaker di Ballroom Gedung BSI Jakarta, dilansir dari kemenag.go.id, Kamis, (28/8/2025).

Menag menekankan zakat dan wakaf bukan sekadar ibadah individu, melainkan instrumen penting bagi pembangunan sosial, ekonomi, dan peradaban. Ia mencontohkan fungsi Masjid Nabi di Madinah yang hanya 20% dipakai untuk ibadah, sementara 80% lainnya digunakan untuk kegiatan sosial dan ekonomi.

“Masjid jangan ada yang nganggur. Kalau ekonomi pesantren dan masjid dikelola, potensinya luar biasa. Tidak boleh ada sejengkal tanah masjid yang tidak produktif,” tegasnya.

Menurut Menag, ajaran Al-Qur’an perlu diartikulasikan dalam konteks kekinian, termasuk melalui fiqih Indonesia yang sesuai dengan kultur bangsa. Ia berharap BSI tidak hanya menjadi lembaga penghimpun dana, tetapi juga berperan aktif dalam membangun peradaban baru.

“Kita punya obsesi menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban dunia Islam baru di masa depan. Estafet kepemimpinan peradaban Islam itu adalah Indonesia. Kita paling stabil ekonominya, paling stabil politiknya, dan paling harmonis meskipun kita paling plural. We are the best harmony in the world today,” ungkap Menag.

Lebih lanjut, Menag juga mendorong penguatan ekonomi pesantren dan pengembangan e-market berbasis masjid. Ia mencontohkan inisiatif di Masjid Istiqlal yang menggandeng perusahaan perikanan, kantor pos, dan layanan kurir.

“Kalau e-mosque ini dikembangkan, keuntungannya besar. Karena itu, BSI perlu bersinergi dengan Kementerian Agama untuk menggarap ekonomi berbasis masjid,” pungkasnya.

Ajakan Menag ini menegaskan bahwa zakat dan wakaf bisa menjadi jalan lahirnya ekonomi umat yang berdaya sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Santri, pesantren, dan masjid pun berpotensi menjadi motor penggerak lahirnya peradaban Islam baru dari Indonesia. (ivan)