Dalam situasi ini, pesantren dengan nilai tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang) kembali menjadi benteng kebinekaan. Seperti para santri 1928, santri masa kini dipanggil untuk meneguhkan sumpah baru: menjaga akhlak di tengah derasnya informasi, menegakkan keadilan di tengah pragmatisme, serta menumbuhkan cinta tanah air di tengah perpecahan digital.
Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi amanah moral yang terus hidup dalam setiap santri yang menegakkan ilmu, adab, dan cinta kepada Indonesia. (ivan)