Kemenag Dorong Sinergi Pesantren dan Madrasah Wujudkan Pendidikan Islam Berkarakter

bumi pesantren | 07 November 2025 19:27

Kemenag Dorong Sinergi Pesantren dan Madrasah Wujudkan Pendidikan Islam Berkarakter
Fadhly Azhar (ASN Direktorat Pesantren Kementerian Agama). (dok kemenag)

JAKARTA, PustakaJC.co - Pegiat pendidikan Islam dari Direktorat Pesantren Kementerian Agama, Fadhly Azhar, menekankan pentingnya sinergi antara pesantren dan madrasah dalam memperkuat mutu pendidikan Islam di Indonesia. Ia menilai, kedua entitas tersebut memiliki karakter dan peran yang berbeda, namun justru saling melengkapi.

 

“Madrasah tumbuh dari tradisi integrasi ilmu agama dan umum, sedangkan pesantren berakar pada tradisi keilmuan dan keteladanan kiai,” tulis Fadhly dalam artikelnya di laman resmi Kemenag, Kamis, (6/11/2025).

 

Menurutnya, madrasah lebih menekankan sistem pendidikan terstruktur dengan kurikulum modern dan evaluasi akademik. Sementara pesantren menanamkan nilai-nilai spiritual, moral, dan adab yang menjadi ciri khas pendidikan Islam tradisional. Dilansir dari kemenag.go.id, Jumat, (7/11/2025).

 

 

Fadhly mengutip pandangan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menyebut pesantren sebagai subkultur Islam Nusantara—lembaga yang memelihara kesederhanaan, keikhlasan, dan kedalaman spiritual di tengah perubahan sosial. Ia juga menyinggung gagasan KH Sahal Mahfudh yang menempatkan pesantren sebagai pusat pengembangan Fiqh Sosial, yakni ilmu agama yang dihidupkan dalam realitas kemasyarakatan.

 

“Pesantren bukan hanya mencetak ahli kitab, tetapi juga pemimpin masyarakat yang peka terhadap problem umat,” tulisnya.

 

Dalam pandangan Fadhly, tantangan pesantren dan madrasah di era modern sama: menjaga nilai sambil tetap relevan dengan perkembangan zaman. Karena itu, ia menegaskan pentingnya kerja sama keduanya.

 

“Madrasah perlu belajar dari pesantren tentang kedalaman spiritual dan keteladanan, sementara pesantren perlu membuka diri terhadap literasi digital dan penguatan manajemen,” ujarnya.

 

 

 

Fadhly menilai, masa depan pendidikan Islam Indonesia terletak pada pertemuan harmonis antara modernitas dan tradisi, agama dan ilmu, serta akal dan moralitas.

 

“Dari sinilah akan lahir generasi Muslim yang cerdas menghadapi zaman, tanpa kehilangan kebijaksanaan tradisi bangsa,” pungkasnya. (ivan)