SIDOARJO, PustakaJC.co - Pembangunan ulang Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, resmi dimulai pada Kamis, (11/12/2025), pasca tragedi ambruknya bangunan empat lantai yang menewaskan 63 santri pada akhir Oktober 2025.
Meski rekonstruksi bergerak, proses hukum kasus tersebut disebut berjalan lambat. Hingga kini, Polda Jawa Timur belum menetapkan tersangka terkait insiden yang menyebabkan total 167 santri menjadi korban. Dilansir dari jawapos.com, Kamis, (11/12/2025).
Menanggapi hal itu, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menegaskan bahwa proses penyidikan tidak boleh berhenti.
“Katanya penyidikan kasus bangunan ambruk Ponpes Al Khoziny jalan terus,” ujar Cak Imin usai menghadiri groundbreaking pembangunan ulang pesantren.
Ia menekankan bahwa pemerintah pusat, daerah, dan berbagai kementerian dalam satuan tugas rekonstruksi tetap menghormati langkah penyidik kepolisian.
“Groundbreaking ini bukan sekadar seremonial. Ini momentum muhasabah dan ajakan untuk bahu-membahu memperbaiki pesantren,” tambahnya.
Pembangunan ulang ini menggunakan dana APBN senilai Rp125,3 miliar, yang akan direalisasikan bertahap. Proyek dikerjakan di atas lahan 3.700 meter persegi.
Sebagaimana diketahui, bangunan Ponpes Al Khoziny ambruk pada Senin, (29/10/2025) sekitar pukul 15.35 WIB saat santri melaksanakan salat Asar berjamaah. Total 167 santri menjadi korban, dengan rincian 104 selamat dan 63 meninggal dunia.
Karena akses di lokasi lama terbatas, pembangunan pesantren dipindah ke Jalan Siwalanpanji II, yang dinilai lebih strategis. (ivan)