JAKARTA, PustakaJC.co – Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU menggelar halaqah bertajuk Membedah Hujjah KH Afifuddin Muhajir di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu, (13/12/2025). Forum ini membahas dokumen enam poin hujjah syar’i yang dirilis Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir terkait kewenangan Lembaga Syuriyah dalam pemberhentian Ketua Umum PBNU.
Halaqah dihadiri Ketua PBNU KH Miftah Faqih, Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev, serta menghadirkan dua penanggap utama, yakni Pengurus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU Kholili Kholil dan Katib Syuriyah PBNU KH Ahmad Nadhif Abdul Mujib. Dilansir dari nu.or.id, Selasa, (16/12/2025).
Dalam pemaparannya, KH Afifuddin Muhajir menegaskan Rais Aam dan Lembaga Syuriyah PBNU memiliki posisi sebagai ulil amri dalam organisasi. Menurutnya, keputusan Syuriyah bersifat mengikat dan wajib ditaati selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat Islam.
Pada poin pertama hujjahnya, KH Afif menempatkan Rais Aam dan Syuriyah sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam struktur jam’iyyah. Ia menegaskan, ketaatan terhadap keputusan tersebut merupakan bagian dari disiplin organisasi.