Wamenag Ajak Santri Perkuat Kerukunan di Tengah Keberagaman

bumi pesantren | 12 Maret 2026 08:26

Wamenag Ajak Santri Perkuat Kerukunan di Tengah Keberagaman
Talk Show dan Ngaji Bareng Santri. (dok kemenag)

JAKARTA, PustakaJC.co — Wakil Menteri Agama Muhammad Syafii mengajak para santri untuk memperkuat kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Ajakan tersebut disampaikan saat ia menjadi narasumber dalam acara Takjil Pesantren: Talk Show dan Ngaji Bareng Santri bertema Menjaga Kerukunan Indonesia dari Pesantren di Pesantren Al-Qur’an dan Sains Nurani, Rabu, (12/3/2026).

 

Dalam kesempatan itu, Syafii menegaskan bahwa pesantren memiliki hubungan erat dengan perjalanan sejarah bangsa. Menurutnya, membicarakan pesantren tidak bisa dipisahkan dari pembahasan tentang Indonesia. Dilansir dari kemenag.go.id, Kamis, (12/3/2026)

 

“Karena itu saya selalu mengatakan bicara pesantren itu bicara Indonesia. Dan kalau bicara Indonesia maka kita harus juga bicara pesantren,” ujar Syafii.

 

 

Ia menjelaskan, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang telah hadir jauh sebelum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keberadaan pesantren, kata dia, telah melahirkan banyak tokoh yang berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan.

 

“Pesantren ini adalah pendidikan yang asli Indonesia. Sudah lahir sebelum ada negara kesatuan Republik Indonesia. Santrinya terbukti adalah pelopor kemerdekaan Indonesia,” katanya.

 

Syafii juga menyinggung keterlibatan alumni pesantren dalam proses perumusan kemerdekaan melalui Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang dipimpin Radjiman Wedyodiningrat. Dari badan tersebut kemudian dibentuk tim perumus Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang dipimpin Soekarno.

 

 

Selain itu, peran pesantren juga terlihat dalam peristiwa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang menjadi tonggak penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

 

Lebih lanjut, Syafii menyebut pesantren saat ini telah berkembang menjadi ekosistem pendidikan besar di Indonesia. Ia mencatat terdapat sekitar 42 ribu pesantren dengan lebih dari 10 juta santri serta sekitar 1,8 juta kiai yang tersebar di berbagai daerah.

 

Menurutnya, kehidupan di pesantren membuat para santri terbiasa hidup dalam keberagaman, sehingga mampu menjaga keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk.

 

“Santri yang sekarang sudah menjadi alumni terbiasa untuk memahamkan bahwa perbedaan itu adalah ketentuan dari Allah SWT. Keragaman merupakan anugerah yang tidak bisa ditolak, tetapi wajib diterima,” pungkasnya. (ivan)