Dari Pinggir Bengawan Solo, Pondok Pesantren Langitan Tumbuh Jadi Pesantren Tertua dan Berpengaruh di Indonesia

bumi pesantren | 07 April 2026 20:20

Dari Pinggir Bengawan Solo, Pondok Pesantren Langitan Tumbuh Jadi Pesantren Tertua dan Berpengaruh di Indonesia
Keluarga Santri dan Alumni (Kesan) Pondok Pesantren Langitan Tuban menggelar pertemuan untuk menyikapi Pemilu dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. (dok tribunjatim)

TUBAN, PustakaJC.co — Pondok Pesantren Langitan merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang hingga kini tetap eksis dan berkembang. Berlokasi di Dusun Mandungan, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, tepat di tepi Bengawan Solo, pesantren ini telah menjadi pusat pembelajaran agama sejak didirikan pada tahun 1852, Selasa (7/4/2026).

Nama “Langitan” sendiri memiliki sejarah unik. Istilah tersebut berasal dari kata “Plangitan”, gabungan dari “plang” (papan penanda) dan “wetan” (timur dalam bahasa Jawa). Dahulu, terdapat dua penanda wilayah di bagian timur dan barat, dan pesantren ini berdiri di dekat penanda timur, sehingga disebut “Plang Wetan” yang kemudian berkembang menjadi “Langitan”. Demikian dikutip dari jatim.antaranews.com, Selasa (7/4/2026).

Awalnya, pesantren ini hanya berupa surau sederhana yang didirikan oleh KH Muhammad Nur. Surau tersebut digunakan untuk mengajarkan ilmu agama kepada keluarga dan masyarakat sekitar. Selain sebagai tempat menimba ilmu, keberadaan surau juga menjadi sarana membangun semangat perjuangan melawan penjajahan di tanah Jawa.

Seiring berjalannya waktu, Pondok Pesantren Langitan mengalami perkembangan pesat. Kini, jumlah santri mencapai lebih dari 5.500 orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara, termasuk Malaysia. Hal ini menunjukkan peran penting pesantren dalam dunia pendidikan Islam, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Perjalanan panjang pesantren ini tidak lepas dari kesinambungan kepemimpinan para kiai dari generasi ke generasi. Setelah wafatnya KH Muhammad Nur pada tahun 1870, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, KH Ahmad Sholeh selama sekitar 32 tahun. Selanjutnya, kepemimpinan diteruskan oleh KH Muhammad Khozin hingga tahun 1921.

Kepengasuhan kemudian dipegang oleh KH Abdul Hadi Zahid selama kurang lebih 50 tahun, sebelum dilanjutkan oleh KH Ahmad Marzuqi Zahid hingga tahun 2000. Setelah itu, tongkat kepemimpinan berlanjut kepada KH Abdullah Faqih bersama Majelis Masyayikh.

Dalam rentang lebih dari satu setengah abad, Pondok Pesantren Langitan telah berkembang dari surau kecil menjadi kompleks pesantren seluas sekitar 7 hektare. Pesantren ini juga dikenal melahirkan banyak tokoh besar, di antaranya KH Hasyim Asy’ari dan KH Kholil Bangkalan.

Sebagai lembaga pendidikan, Pondok Pesantren Langitan memadukan sistem pembelajaran klasik dan modern. Sistem klasikal diterapkan melalui jenjang madrasah formal, sementara metode nonklasikal seperti bandongan dan sorogan tetap dipertahankan sebagai ciri khas pesantren salaf.

Selain pembelajaran formal, santri juga mengikuti kegiatan musyawaroh dan muhafadhoh guna memperdalam pemahaman kitab kuning serta melatih kemampuan berpikir kritis. Pesantren ini juga menyediakan program khusus (tahassus) bagi santri tingkat lanjut untuk pendalaman ilmu agama secara intensif.

Konsistensi dalam menjaga tradisi sekaligus membuka diri terhadap pembaruan menjadikan Pondok Pesantren Langitan tetap relevan di tengah arus modernisasi. Dari pinggir Bengawan Solo, pesantren ini terus meneguhkan perannya sebagai pusat pendidikan Islam yang berpengaruh di Indonesia. (frcn)