Menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin tersebut, hadis itu kerap dipahami secara tekstual hingga melahirkan tren berpakaian cingkrang demi menghindari ancaman dalam hadis.
Namun, Gus Mus menegaskan bahwa inti larangan dalam hadis tersebut bukan terletak pada panjang pendek pakaian, melainkan pada unsur kesombongan atau “batharan”.
“Yang penting batharan-nya itu yang dilarang. Bukan karena ngelembre dan tidaknya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa simbol keagamaan tidak seharusnya dijadikan sarana pamer kesalehan. Sebab, ketika pakaian tertentu dipakai untuk menunjukkan diri paling takwa, maka justru berpotensi bertentangan dengan pesan utama hadis tersebut.
Pernyataan Gus Mus itu kembali menegaskan pentingnya memahami ajaran agama secara substansial, tidak hanya berhenti pada simbol dan tampilan luar semata. (ivan)