SURABAYA, PustakaJC.co - KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus menjelaskan bahwa pendekatan manusia dalam beragama pada dasarnya hanya ada dua, yakni karena rasa takut dan karena cinta kepada Allah.
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu menyebut, pendekatan pertama lebih banyak ditemui pada kalangan yang menitikberatkan aspek fiqih. Sementara pendekatan kedua lebih dekat dengan cara pandang kaum sufi yang beribadah karena rasa cinta kepada Tuhan. Dilansir dari nu.or.id, Sabtu, (9/5/2026).
“Kalau orang sufi pendekatannya cinta. Jadi orang sufi itu sembahyang, puasa karena cinta kepada Allah,” ujar Gus Mus dalam pengajian Riyadus Shalihin yang tayang di kanal YouTube Gus Mus Channel.
Penjelasan itu disampaikan Gus Mus saat menerangkan hadis Nabi Muhammad SAW tentang larangan menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki karena kesombongan.
Menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin tersebut, hadis itu kerap dipahami secara tekstual hingga melahirkan tren berpakaian cingkrang demi menghindari ancaman dalam hadis.
Namun, Gus Mus menegaskan bahwa inti larangan dalam hadis tersebut bukan terletak pada panjang pendek pakaian, melainkan pada unsur kesombongan atau “batharan”.
“Yang penting batharan-nya itu yang dilarang. Bukan karena ngelembre dan tidaknya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa simbol keagamaan tidak seharusnya dijadikan sarana pamer kesalehan. Sebab, ketika pakaian tertentu dipakai untuk menunjukkan diri paling takwa, maka justru berpotensi bertentangan dengan pesan utama hadis tersebut.
Pernyataan Gus Mus itu kembali menegaskan pentingnya memahami ajaran agama secara substansial, tidak hanya berhenti pada simbol dan tampilan luar semata. (ivan)