Ia menambahkan, tantangan kesehatan seperti tuberkulosis (TBC), hepatitis, dan penyakit menular lainnya menjadi perhatian serius karena lingkungan pesantren dihuni oleh banyak santri dalam satu kawasan yang sama.
Meski demikian, Gus Yahya menegaskan bahwa perjuangan mendidik santri harus tetap dijalankan dengan penuh kesabaran dan kekuatan spiritual. Menurutnya, tugas mengajar dan mendidik anak-anak merupakan pekerjaan paling berat karena berkaitan langsung dengan pembentukan masa depan mereka.
“Berjuang yang paling berat itu mengajar dan mendidik. Yang paling berat adalah mengajar anak-anak kecil karena sedang membentuk masa depannya,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh pengasuh pesantren untuk meneladani para ulama terdahulu yang menerima dan membimbing santri dengan penuh kesabaran serta ketulusan.
“Mari kita ingat kembali pesan guru-guru kita. Mereka dulu menerima dan mengasuh santri dengan penuh kesabaran. Kita tinggal meneruskan perjuangan mereka,” pungkasnya. (nov)