Gus Yahya Ingatkan Besarnya Amanah Pesantren dalam Membentuk Masa Depan Santri

bumi pesantren | 17 Juni 2026 14:15

Gus Yahya Ingatkan Besarnya Amanah Pesantren dalam Membentuk Masa Depan Santri
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf. (dok nuonline)

LAMPUNG, PustakaJC.co – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mengingatkan bahwa tugas mendidik santri di pesantren merupakan amanah besar yang menyangkut masa depan dunia dan akhirat anak-anak yang dipercayakan orang tua kepada para kiai.

Hal itu disampaikan Gus Yahya saat menghadiri Doa Bersama dan Deklarasi Pesantrenku Aman Roadshow #2 Gerakan Nasional (Gernas) Pesantrenku Aman di Pondok Pesantren Nurul Qodiri, Lampung Tengah, Selasa (16/6/2026).

Menurutnya, para pengasuh pesantren harus siap memikul tanggung jawab tersebut dengan penuh kesabaran, kebersamaan, dan ketakwaan sebagaimana ajaran Al-Qur’an yang terangkum dalam prinsip isbiru, wa shabiru, wa rabithu, dan wattaqullah.

“Pesantren sejak awal memang harus dimulai dengan isbiru karena berat,” ujar Gus Yahya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan pesantren merupakan bentuk keberanian para kiai dalam mengambil tanggung jawab besar untuk mendidik anak-anak yang sejatinya menjadi amanah utama orang tua.

Menurut Gus Yahya, para orang tua menitipkan anak-anak mereka ke pesantren karena memiliki keyakinan bahwa lembaga tersebut mampu memberikan kemaslahatan bagi kehidupan dunia maupun akhirat para santri.

“Orang tua menyerahkan anak-anak mereka kepada pesantren karena percaya bahwa anak-anaknya akan memperoleh kemaslahatan dunia dan akhirat,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Gus Yahya juga mengulas sejarah penggunaan istilah rabithah yang diperkenalkan oleh pendiri NU, Abdul Wahab Chasbullah. Istilah tersebut terinspirasi dari Surah Ali Imran ayat 200 yang menjadi pedoman penting dalam pengelolaan pesantren.

Ia menjelaskan bahwa prinsip pertama adalah isbiru, yakni kesabaran dalam menghadapi beratnya perjuangan mengelola pesantren. Prinsip kedua adalah wa shabiru, yaitu saling menguatkan, menjaga kerukunan, dan saling mengingatkan dalam kesabaran antar-kiai maupun pengelola pesantren.

“Wa shabiru, kiai satu rukun dengan kiai yang lain juga tidak mudah. Harus saling bersabar, saling mengingatkan untuk bersabar, dan saling menyayangi satu sama lain,” ujarnya.

Prinsip berikutnya adalah wa rabithu, yaitu membangun kebersamaan dan perjuangan kolektif. Menurut Gus Yahya, kemajuan pesantren tidak mungkin dicapai apabila setiap lembaga berjalan sendiri-sendiri tanpa sinergi.

“Tidak mungkin berjuang sendiri-sendiri. Maka harus wa rabithu jika ingin berjaya,” tegasnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya prinsip wattaqullah atau menjaga ketakwaan kepada Allah SWT dalam seluruh proses pengabdian dan pendidikan di lingkungan pesantren.

Gus Yahya juga mengingatkan bahwa semakin besarnya jumlah santri di berbagai pesantren membuat tantangan pengelolaan menjadi semakin kompleks. Ia mencontohkan beberapa pesantren besar yang memiliki puluhan ribu santri dan harus mengelola mereka dalam jangka waktu bertahun-tahun.

Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan berbagai potensi persoalan seperti perundungan, kekerasan, hingga penyebaran penyakit menular apabila tidak diantisipasi dan dikelola dengan baik.

“Kalau disebut ada kekerasan, perundungan, dan lain-lain, itu memang potensi yang logis. Belum lagi penyakit menular yang harus diantisipasi bersama,” katanya.

Ia menambahkan, tantangan kesehatan seperti tuberkulosis (TBC), hepatitis, dan penyakit menular lainnya menjadi perhatian serius karena lingkungan pesantren dihuni oleh banyak santri dalam satu kawasan yang sama.

Meski demikian, Gus Yahya menegaskan bahwa perjuangan mendidik santri harus tetap dijalankan dengan penuh kesabaran dan kekuatan spiritual. Menurutnya, tugas mengajar dan mendidik anak-anak merupakan pekerjaan paling berat karena berkaitan langsung dengan pembentukan masa depan mereka.

“Berjuang yang paling berat itu mengajar dan mendidik. Yang paling berat adalah mengajar anak-anak kecil karena sedang membentuk masa depannya,” ujarnya.

Ia pun mengajak seluruh pengasuh pesantren untuk meneladani para ulama terdahulu yang menerima dan membimbing santri dengan penuh kesabaran serta ketulusan.

“Mari kita ingat kembali pesan guru-guru kita. Mereka dulu menerima dan mengasuh santri dengan penuh kesabaran. Kita tinggal meneruskan perjuangan mereka,” pungkasnya. (nov)