PBNU Tinjau Tiga Pesantren Calon Lokasi Muktamar ke-35 NU

bumi pesantren | 05 Juli 2026 11:45

PBNU Tinjau Tiga Pesantren Calon Lokasi Muktamar ke-35 NU
Tim survei lokasi di Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat. (dok nuonline)

 

CIREBON, PustakaJC.co – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meninjau tiga pondok pesantren di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sebagai bagian dari survei calon lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU. Ketiga pesantren tersebut yakni Pondok Buntet Pesantren, Pondok Pesantren Kempek, dan Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin.

 

Survei yang berlangsung pada Sabtu, (4/7/2026) itu dilakukan untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana apabila Cirebon ditetapkan sebagai tuan rumah forum permusyawaratan tertinggi organisasi Nahdlatul Ulama. Dilansir dari nuonline.co.id, Minggu, (5/7/2026).

 

Tim survei terdiri atas Katib Syuriyah PBNU KH Abu Yazid Al-Busthami, Ketua PBNU KH Ahmad Fahrur Rozi, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Amir Ma’ruf, Bendahara PBNU H Nuruzzaman, serta staf PBNU Hj Qonitatul Ulya. Mereka didampingi Ketua PWNU Jawa Barat KH Juhadi Muhammad, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Cirebon KH Wawan Arwani, dan Ketua PCNU Kabupaten Cirebon KH Aziz Hakim Syaerozi.

 

Katib Syuriyah PBNU KH Abu Yazid Al-Busthami mengatakan hasil peninjauan sementara menunjukkan ketiga lokasi memenuhi kebutuhan dasar penyelenggaraan Muktamar.

 

“Insyaallah, ini memenuhi,” ujarnya.

 

 

 

 

 

Meski demikian, ia menegaskan hasil survei belum menjadi penentu lokasi penyelenggaraan Muktamar. Keputusan akhir akan ditetapkan melalui rapat Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC) yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (7/7/2026).

 

“Semua nanti berpulang kepada keputusan panitia, baik SC maupun OC,” katanya.

 

Menurut Kiai Yazid, salah satu keunggulan Pondok Buntet Pesantren adalah memiliki gedung berkapasitas besar. Apabila masih dibutuhkan ruang tambahan, tersedia lapangan yang selama ini digunakan untuk berbagai kegiatan berskala besar, termasuk haul yang dihadiri ribuan jamaah.

 

Ia menjelaskan, lokasi Muktamar harus mampu menampung ruang sidang pleno maupun komisi, didukung akses transportasi yang memadai serta ketersediaan akomodasi. Pasalnya, Muktamar diperkirakan akan diikuti sekitar 5.000 hingga 6.000 peserta resmi, belum termasuk ribuan warga Nahdliyin yang hadir.

 

Jika Cirebon nantinya ditetapkan sebagai tuan rumah, pelaksanaan Muktamar direncanakan dipusatkan di tiga pesantren tersebut.

 

“Seandainya jadi tuan rumah, ada tiga pesantren. Makanya kita akan melaporkan apa adanya. Nanti yang menentukan panitia SC dan OC,” ucapnya.

 

 

 

Sementara itu, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Cirebon KH Wawan Arwani menyatakan seluruh elemen NU di Cirebon siap menyukseskan Muktamar apabila dipercaya menjadi tuan rumah.

 

“Kami PCNU Kabupaten Cirebon siap apabila Muktamar dilaksanakan di Kabupaten Cirebon. Di sini ada tiga pesantren yang menjadi alternatif lokasi, yakni Buntet, Kempek, dan Babakan Ciwaringin. Insya Allah semuanya siap. Untuk NU, apa yang tidak siap,” ujarnya.

 

Pengasuh Pondok Buntet Pesantren KH Fahad Ahmad Sadat mengatakan tim survei memberikan penilaian positif terhadap kesiapan pesantrennya. Berbagai fasilitas telah ditinjau, mulai dari masjid, ruang rapat, Graha Mbah Muqayyim, hingga lokasi yang diproyeksikan menjadi tempat sidang pleno, pembukaan, dan akomodasi peserta.

 

“Alhamdulillah, hasil kunjungan tim survei PBNU memberikan penilaian positif terhadap kesiapan kami. Secara sarana dan prasarana serta dukungan pesantren, insyaallah kami siap menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan Muktamar,” katanya.

 

Di sisi lain, Ketua PWNU Jawa Barat KH Juhadi Muhammad berharap Muktamar ke-35 NU dapat kembali digelar di Jawa Barat. Menurutnya, provinsi tersebut terakhir menjadi tuan rumah Muktamar pada 1994 di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.

 

 

 

Ketua PCNU Kabupaten Cirebon KH Aziz Hakim Syaerozi juga menilai Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin layak menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan karena memiliki sejarah panjang dan hubungan erat dengan perjuangan para ulama NU.

 

 

 

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Kempek KH Mustofa Aqil Siroj berharap penetapan lokasi Muktamar tidak hanya didasarkan pada hasil survei teknis, tetapi juga melalui ikhtiar spiritual.

 

“Hasil survei apa pun, setelah diserahkan kepada Pengurus Besar, kami mohon diserahkan kepada para kiai untuk melakukan istikharah,” ujarnya.

 

Keputusan mengenai lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU dijadwalkan akan diputuskan setelah rapat SC dan OC PBNU pada pekan ini. Cirebon menjadi salah satu daerah yang dinilai memiliki kesiapan dari sisi fasilitas pesantren, dukungan organisasi, hingga kapasitas untuk menampung ribuan peserta dari seluruh Indonesia. (ivan)