RMI PBNU Perbanyak Trainer Pencegahan Kekerasan Pesantren

bumi pesantren | 16 Juli 2026 18:27

RMI PBNU Perbanyak Trainer Pencegahan Kekerasan Pesantren
Pengurus SAKA Pesantren PBNU H. Marzuki Wahid memberikan arahan kepada peserta Training of Trainers Pelatihan Musyrif-Musyrifah yang diselenggarakan RMI PBNU dan SAKA Pesantren PBNU di Yogyakarta dalam rangka memperkuat perlindungan santri dan pencegahan kekerasan di lingkungan pesantren. (dok nuonline)

YOGYAKARTA, PustakaJC.co – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) bersama Satuan Penanggulangan Kekerasan di Pesantren (SAKA Pesantren) PBNU menggelar Training of Trainers (ToT) Pelatihan Musyrif-Musyrifah untuk memperluas upaya pencegahan kekerasan di lingkungan pesantren, Kamis, (16/7/2026).

 

Kegiatan tersebut ditujukan untuk mencetak lebih banyak fasilitator yang mampu memperkuat sistem pengasuhan dan perlindungan santri di berbagai pesantren di Indonesia. Dilansir dari nu.or.id, Kamis, (16/7/2026).

 

Pengurus SAKA Pesantren PBNU, H. Marzuki Wahid, mengatakan ToT merupakan pelatihan khusus bagi calon pelatih yang nantinya akan mengembangkan program serupa di daerah masing-masing.

 

“Training of Trainers ini merupakan pelatihan untuk para pelatih. Panjenengan semua di sini akan dilatih menjadi pelatih,” kata Marzuki.

 

 

 

Ia menjelaskan, kebutuhan pelatihan penguatan kapasitas musyrif dan musyrifah terus meningkat seiring tumbuhnya kesadaran pesantren terhadap pentingnya perlindungan santri. Namun, jumlah fasilitator yang tersedia saat ini masih terbatas.

 

“Selama ini kami kewalahan memenuhi undangan dari berbagai pesantren. Kesadaran untuk mengadakan pelatihan seperti ini sudah tumbuh di banyak tempat. Karena itu, RMI PBNU bersama SAKA Pesantren PBNU memandang perlu memperbanyak dan memperluas trainer agar pelatihan dapat menjangkau lebih banyak pesantren,” ujarnya.

 

Menurut Marzuki, peserta ToT dipersiapkan menjadi fasilitator yang mampu melatih musyrif, musyrifah, pengasuh, hingga tenaga pendidik di lingkungan pesantren. Dengan demikian, penguatan kapasitas tidak hanya bergantung pada fasilitator nasional, tetapi dapat berkembang secara berkelanjutan di berbagai daerah.

 

Ia menilai langkah tersebut penting karena masih ditemukan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren. Oleh sebab itu, penguatan sistem perlindungan santri perlu terus dilakukan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan tata kelola pengasuhan yang lebih baik.

 

 

Selain memberikan pemahaman mengenai pengasuhan positif, pelatihan juga diharapkan mampu membangun mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan yang sesuai dengan nilai-nilai pesantren dan prinsip-prinsip Nahdlatul Ulama.

 

Marzuki berharap para peserta dapat menjadi agen perubahan yang membawa semangat perlindungan santri ke pesantren masing-masing serta mengembangkan pelatihan lanjutan bagi para pengasuh dan pendidik.

 

“Jangan sampai ada kekerasan terjadi di pesantren. Kalaupun terjadi, pesantren harus mempunyai mekanisme penanganan yang sesuai dengan etika kita sebagai orang pesantren dan sebagai warga Nahdlatul Ulama dalam menangani kekerasan di pesantren,” tegasnya.

 

Program ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan RMI PBNU dan SAKA Pesantren PBNU untuk mewujudkan lingkungan pesantren yang aman, ramah anak, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. (ivan)