Karena itu, ia menilai pesantren memiliki posisi yang sangat strategis untuk menghadirkan pendidikan kesehatan reproduksi secara lebih komprehensif.
“Pesantren menggantikan peran orang tua. Anak diserahkan secara utuh kepada pesantren sehingga fungsi pendidikan dan pengasuhan berjalan bersamaan,” katanya.
Menurut Alissa, kondisi tersebut menjadi keunggulan tersendiri bagi pesantren dalam membentuk pola hidup sehat para santri sejak usia dini. Dengan bekal pengetahuan yang memadai, para santri diharapkan mampu menjaga kesehatan diri serta mempersiapkan kehidupan keluarga yang sehat pada masa mendatang.
Ia mengingatkan bahwa santri berpotensi menyelesaikan pendidikan tanpa memahami persoalan penting terkait kesehatan reproduksi apabila materi tersebut tidak diajarkan secara utuh.
“Jika aspek kesehatan reproduksi tidak diajarkan secara utuh, santri berpotensi menyelesaikan pendidikan tanpa memahami persoalan-persoalan penting yang berkaitan dengan kesehatan dirinya maupun keluarganya di masa depan,” jelasnya.