Alissa menegaskan, pendidikan kesehatan reproduksi harus dipahami secara menyeluruh sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, bukan sekadar dikaitkan dengan persoalan seksualitas.
“Karena itu, pendidikan kesehatan reproduksi harus dipahami secara utuh, bukan hanya dipersempit menjadi persoalan seksualitas,” pungkasnya. (ivan)