Pesantren Jadi Jantung NU, PBNU Perkuat Standar Keamanan Santri

bumi pesantren | 22 Agustus 2026 08:17

Pesantren Jadi Jantung NU, PBNU Perkuat Standar Keamanan Santri
Penyerahan Buku Standar Pesantren Indonesia oleh Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev kepada Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf di Pondok Pesantren Darul Ma'arif Bandung. (dok nuonline)

BANDUNG, PustakaJC.co – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperkuat upaya menciptakan lingkungan pesantren yang aman melalui Gerakan Nasional Pesantrenku Aman. Penguatan dilakukan dengan meluncurkan buku standar pesantren serta menggandeng Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) dalam layanan konsultasi infrastruktur pesantren.

 

Langkah tersebut dilakukan dalam Roadshow ke-25 Gerakan Nasional Pesantrenku Aman yang digelar di Pondok Pesantren Darul Ma’arif, Bandung, Jawa Barat, Jumat, (21/8/2026).

 

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan pesantren memiliki posisi penting bagi Nahdlatul Ulama. Menurutnya, pesantren menjadi bagian utama dari lahir dan berkembangnya NU. Dilansir dari nu.or.id, Sabtu, (22/8/2026).

 

“Pusat dari segala urusan NU adalah pesantren karena memang intinya NU ada di pesantren,” kata Gus Yahya.

 

 

Ia mengatakan pesantren juga menjadi bentuk tanggung jawab para kiai dalam menjalankan amanah orang tua dan wali santri. Karena itu, keberadaan sarana dan prasarana yang memadai dinilai penting untuk mendukung keamanan serta kenyamanan santri selama menjalani pendidikan.

 

Gus Yahya berharap berbagai ikhtiar yang dilakukan PBNU melalui Gerakan Nasional Pesantrenku Aman dapat memberikan manfaat bagi pesantren dan para santri.

 

“Mudah-mudahan ikhtiar PBNU ini menjadi ikhtiar yang diridai Allah, bermanfaat dan membawa maslahat, dan barokah bagi kita semua,” ujarnya.

 

Sementara itu, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU KH Hodri Ariev mengatakan gerakan tersebut lahir dari perhatian terhadap pentingnya menciptakan lingkungan pesantren yang aman.

 

 

Menurutnya, persoalan kekerasan di lingkungan pesantren tidak hanya berkaitan dengan data atau angka, tetapi menyangkut kehidupan dan masa depan manusia.

 

RMI PBNU kemudian mendorong sejumlah program agar pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaannya.

 

“Kita dituntut melahirkan lulusan santri relevan dengan kebutuhan umat sesuai dinamika mutakhir,” katanya.

 

Dalam kegiatan tersebut, RMI PBNU bersama Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU meluncurkan Buku Standar Pesantren Indonesia dan Buku Pelatihan Perlindungan Anak dan Kekerasan di Pesantren.

 

Kedua buku tersebut diharapkan dapat menjadi instrumen bagi pesantren dalam memperkuat tata kelola sekaligus membangun lingkungan pendidikan yang aman bagi santri.

 

 

 

Selain peluncuran buku, PBNU juga menandatangani kerja sama dengan Inkindo. Kerja sama ini berkaitan dengan layanan konsultasi pembangunan dan penataan infrastruktur pesantren.

 

Melalui kerja sama tersebut, pesantren diharapkan dapat memiliki tata ruang dan bangunan yang kuat, kokoh, serta memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan santri.

 

Ketua Umum Inkindo Eri Heriyadi menyatakan kesiapan organisasinya untuk membantu PBNU dalam merancang pembangunan pesantren berdasarkan standar yang baik dan aman.

 

Inkindo juga membuka peluang bagi santri untuk memperoleh pengalaman kerja melalui program kerja praktik di dunia profesional.

 

 

 

Penanggung Jawab Saka Pesantren H Ulun Nuha mengatakan Gerakan Nasional Pesantrenku Aman dilatarbelakangi berbagai potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan santri.

 

RMI PBNU, kata dia, berupaya mendampingi pesantren melakukan transformasi, mulai dari sistem kepengasuhan hingga aspek keamanan dan kenyamanan santri.

 

Ia juga mengajak para santri menerapkan prinsip STOP, yaitu Sadari Batas, Tolak Kekerasan, Obrolkan jika Melihat Kekerasan, dan Pastikan Lapor kepada Orang Dewasa yang Dipercaya.

 

Kegiatan tersebut turut dihadiri Katib Syuriyah PBNU KH Nurul Yaqin Ishaq, Mustasyar PWNU Jawa Barat sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ma’arif Bandung KH Sofyan Yahya, serta sejumlah pengasuh dan pengurus pesantren. (ivan)