Haul ke-45 KH Abdul Hamid Pasuruan Teguhkan Tradisi Pesantren

bumi pesantren | 23 Agustus 2026 12:36

Haul ke-45 KH Abdul Hamid Pasuruan Teguhkan Tradisi Pesantren
Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat Haul Akbar Ke-45 Mbah Hamid Pasuruan di Pesantren Salafiyah Kota Pasuruan. (dok nuonline)

PASURUAN, PustakaJC.co — Haul Akbar ke-45 KH Abdul Hamid Pasuruan menjadi momentum untuk mengenang keteladanan ulama sekaligus memperkuat nilai-nilai kehidupan pesantren. Kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Salafiyah, Kota Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu, (22/8/2026).

 

Haul Mbah Hamid dihadiri Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf. Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya menekankan pentingnya peran kiai dalam kehidupan pesantren dan keberlangsungan tradisi keagamaan di tengah masyarakat. Dilansir dari nu.or.id, Minggu, (23/8/2026).

 

Menurut Gus Yahya, KH Abdul Hamid Pasuruan merupakan salah satu sosok kiai yang memiliki peran penting dalam membimbing umat. Keteladanan para kiai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pesantren dan kehidupan keagamaan masyarakat.

 

“Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ini tidak mungkin bertahan tanpa peran dari kiai-kiai seperti Kiai Abdul Hamid Pasuruan,” ujar Gus Yahya.

 

 

Ia menjelaskan bahwa kehidupan pesantren tidak hanya berkaitan dengan pendidikan keagamaan secara formal, tetapi juga membangun ikatan batin antara santri, kiai, dan masyarakat.

 

Menurutnya, hubungan tersebut tumbuh melalui kecintaan terhadap ulama, agama, serta Rasulullah. Nilai tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi pesantren dari generasi ke generasi.

 

Gus Yahya juga mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan dan persatuan. Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bersama, termasuk di lingkungan pesantren dan organisasi keagamaan.

 

Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menghilangkan sikap saling menghormati dan menjaga persaudaraan.

 

Ia kemudian mengingatkan pesan Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari kepada warga Nahdlatul Ulama agar membangun kehidupan jam’iyyah dengan mahabbah, kasih sayang, kerukunan, dan persatuan.

 

Nilai tersebut dinilai tetap relevan dalam kehidupan pesantren saat ini. Para santri tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki akhlak, sikap menghormati guru, serta mampu menjaga hubungan baik dengan sesama.

 

Haul ke-45 KH Abdul Hamid Pasuruan pun menjadi kesempatan bagi para santri dan masyarakat untuk kembali mengingat perjuangan serta keteladanan Mbah Hamid. Tradisi haul sekaligus menjadi ruang untuk meneruskan nilai-nilai keulamaan dan kepesantrenan kepada generasi berikutnya.

 

Melalui kegiatan tersebut, semangat mencintai ulama, menghormati guru, memperkuat persaudaraan, dan menjaga tradisi keilmuan pesantren diharapkan terus tumbuh di tengah masyarakat. (ivan)