Dalam tulisan “Pintar Saja Tidak Cukup”, Gus Kikin menekankan bahwa santri tidak cukup hanya dibekali ilmu. Pendidikan juga harus membentuk adab agar ilmu yang dimiliki dapat digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.
Ilmu membuat seseorang memiliki pengetahuan, sedangkan adab menjadi bekal dalam menjalankan peran di tengah masyarakat.
Gagasan mengenai pendidikan adab tersebut kemudian dikaitkan dengan makna kemajuan peradaban. Kemajuan tidak semestinya hanya diukur melalui kecanggihan teknologi maupun pembangunan infrastruktur.
Kebudayaan, keadilan, kebahagiaan dan moralitas juga menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas sebuah peradaban.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai kemajuan bukan hanya tentang seberapa jauh manusia menguasai teknologi, tetapi juga tentang karakter manusia yang terbentuk dari kemajuan tersebut.
Salah satu gagasan yang konsisten dalam buku ini adalah pentingnya hubungan antara ilmu dan adab. Kualitas kehidupan keagamaan dinilai sangat berkaitan dengan kualitas ilmu yang dimiliki masyarakat.
Karena itu, pesantren tidak perlu selalu terbawa dalam setiap perdebatan keagamaan yang berkembang di ruang publik. Hal yang lebih mendasar adalah menjaga ilmu dan ukhuwah sebagai fondasi pembentukan adab serta kehidupan bermasyarakat.
Pesan tersebut semakin relevan ketika media sosial membuat perbedaan pendapat dapat berkembang menjadi konflik dalam waktu singkat. Potongan video maupun pernyataan yang keluar dari konteks dapat memicu penghakiman dan polarisasi.
Dalam kondisi tersebut, pendidikan adab menjadi penting agar masyarakat tidak hanya memiliki kemampuan menyampaikan pendapat, tetapi juga mampu bertanggung jawab atas apa yang disampaikan.
Buku ini juga mengangkat hubungan Islam, pesantren dan kebangsaan. Sejumlah tulisan membahas KH M Hasyim Asy’ari, Resolusi Jihad, NU dan Gus Dur.