Menjaga Tradisi Pesantren di Tengah Perubahan Zaman

bumi pesantren | 24 Agustus 2026 19:01

 

Sejarah tersebut tidak hanya digunakan untuk mengenang masa lalu, tetapi juga sebagai bahan pembelajaran mengenai kehidupan umat Islam, kehidupan berbangsa dan masa depan pesantren.

 

KH M Hasyim Asy’ari, misalnya, tidak hanya digambarkan sebagai ulama yang menguasai ilmu agama, tetapi juga sebagai tokoh yang membangun jejaring, mengembangkan pesantren, membentuk kader dan memikirkan masa depan bangsa.

 

Dalam pembahasan mengenai dakwah Mbah Hasyim, buku tersebut menekankan pentingnya membangun jamaah melalui proses yang panjang dan berkelanjutan.

 

Otoritas keagamaan tidak hanya lahir dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kemampuan membangun komunitas dan memberikan manfaat secara nyata kepada masyarakat.

 

Pemikiran tersebut memiliki relevansi dengan kondisi masyarakat yang semakin terfragmentasi. Membangun komunitas yang sehat dinilai tidak kalah penting dibandingkan memenangkan perdebatan di ruang publik.

 

Persatuan juga tidak dimaknai sebagai keseragaman. Kehidupan pesantren digambarkan sebagai ruang perjumpaan santri dari berbagai daerah, budaya dan latar belakang.

 

Para santri belajar hidup bersama, memahami perbedaan dan menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan. Nilai tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan kebangsaan Indonesia.