SURABAYA, PustakaJC.co - Peta gerakan perempuan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) tengah mengalami pergeseran signifikan. Jika selama ini pengorganisasian perempuan mayoritas terwadahi melalui struktur formal seperti Muslimat NU atau Fatayat NU, kini muncul fenomena baru di mana para Bu Nyai—sebutan untuk perempuan pengasuh pesantren—secara independen menggalang kekuatan dan menciptakan ruang geraknya sendiri.
Perkembangan ini menandai tingginya agensi para perempuan pesantren yang tidak lagi hanya berperan sebagai aktor pendukung (supporting actors) atau objek pemberdayaan semata. Lebih dari itu, para Bu Nyai aktif tampil sebagai subjek yang mampu mengorganisasi pengetahuan keagamaan, mengelola sumber daya, hingga merumuskan agenda perubahan sosial bagi komunitasnya. Dilansir dari nu.or.id, Kamis, (17/9/2026).
Penulis dan akademisi, Mustaghfiroh Rahayu, mencatat bahwa keberadaan jejaring seperti Jam’iyah Mudarosatil Qur’an lil Hafdzaat (JMQH), Jam’iyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighat (JPPPM), Bu Nyai Nusantara, Forum Perempuan Pesantren, hingga Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) menjadi bukti konkret bagaimana para nyai membangun otoritas serta ekosistemnya sendiri.
"Mereka tidak selalu menunggu ruang yang diberikan oleh organisasi, negara, atau institusi keagamaan. Para Bu Nyai justru semakin banyak menciptakan ruangnya sendiri," ujar Rahayu.
Melalui jaringan-jaringan ini, pengetahuan keagamaan yang tadinya beredar terbatas di lingkup pesantren atau pengajian kini diintegrasikan dengan berbagai isu krusial masyarakat modern. Persoalan pengasuhan anak (parenting), kesehatan reproduksi, pendidikan, ekonomi, hingga hak-hak perempuan kini menjadi porsi utama yang dibahas dan diolah menjadi program aksi sosial berbasis komunitas.
Infrastruktur Sosial Baru untuk Masa Depan NU
Kehadiran organisasi independen berbasis Bu Nyai ini dinilai menghadirkan infrastruktur sosial baru bagi NU. Kendati bergerak di luar struktur birokrasi formal NU, para aktor di dalamnya tetap hidup, berakar, dan bernapas dalam tradisi ke-NU-an.
Interaksi antar-Bu Nyai melintasi batas geografis pesantren memungkinkan akumulasi modal sosial yang besar. Pengalaman individual yang dialami satu pesantren kini berevolusi menjadi solidaritas dan pengetahuan kolektif yang siap merespons perubahan zaman secara cepat dan kontekstual.
Menghadapi dinamika masyarakat yang terus berubah, tantangan utama bagi NU kini bukan sekadar bagaimana organisasi memperkuat struktur formalnya, melainkan bagaimana NU mampu membaca dan merangkul energi sosial dari bawah.
Kehadiran gerakan Bu Nyai yang tumbuh organik dari bawah ini menjadi jembatan krusial antara nilai tradisi pesantren dengan kebutuhan zaman. Apabila disinergikan dengan ekosistem utama NU, jejaring ini berpotensi besar menjadi pusat inovasi, kaderisasi kepemimpinan, serta sumber pengetahuan baru bagi masa depan NU. (ivan)