Ditjen Pesantren Kemenag dan PBNU Perkuat Sinergi Jelang Hari Santri 2026

bumi pesantren | 16 Oktober 2026 18:12

Ditjen Pesantren Kemenag dan PBNU Perkuat Sinergi Jelang Hari Santri 2026
Tangkapan layar pertemuan Ketum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (kiri) dan Dirjen Pesantren Basnang Said (kanan) di Jakarta. (dok nuonline)

JAKARTA, PustakaJC.co - Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) menggandeng Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk memantapkan persiapan peringatan Hari Santri 2026. Sinergi strategis ini dibahas dalam pertemuan resmi antara Dirjen Pesantren Basnang Said dan Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) di Jakarta, Kamis, (15/10/2026) malam.

 

Selain membahas agenda utama Hari Santri 2026, kedua pihak juga berdiskusi mengenai peneladanan perjuangan pendiri NU, penguatan tata kelola pesantren, hingga masa depan peran santri bagi pembangunan bangsa. Dilansir dari nu.or.id, Jumat, (16/10/2026).

 

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz menyambut positif terbentuknya Ditjen Pesantren di tubuh Kemenag. Ia menilai langkah ini sebagai wujud nyata kehadiran negara dalam mendampingi serta memajukan ekosistem pesantren di Indonesia.

 

“Lahirnya Ditjen Pesantren adalah buah perjuangan panjang para kiai dan pesantren. PBNU siap mengawal agar Ditjen Pesantren benar-benar menjadi rumah besar bagi seluruh pesantren, memperkuat layanan, dan memajukan kemandirian santri,” tegas Gus Kikin.

 

 

 

Senada dengan hal tersebut, Dirjen Pesantren Basnang Said menegaskan komitmen lembaganya untuk terus menghadirkan kebijakan dan layanan yang berpihak pada kemajuan pesantren secara nasional. Menurutnya, masukan dari PBNU menjadi pilar penting mengingat akar sejarah dan jejaring pesantren NU yang sangat kuat.

 

“Dukungan dan masukan dari PBNU sangat penting karena NU memiliki akar sejarah yang kuat dan jaringan pesantren yang luas di seluruh Indonesia,” ujar Basnang.

 

Sebagai bagian dari rangkaian Hari Santri 2026, PBNU telah merancang sejumlah agenda utama. Puncak apel peringatan akan dipusatkan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada 22 Oktober 2026.

 

Wakil Ketua Umum PBNU H Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyampaikan bahwa apel di Tebuireng akan diikuti secara berjejaring oleh seluruh Pengurus Wilayah NU (PWNU) dan Pengurus Cabang NU (PCNU) se-Indonesia secara dalam jaringan (daring).

 

“Untuk Hari Santri tanggal 22 Oktober, akan dipusatkan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Apel ini insyaallah diikuti oleh seluruh pengurus wilayah dan cabang lewat online,” terang Gus Ipul.

 

 

Selain apel nasional, PBNU juga menjadwalkan agenda resepsi peringatan di Gedung PCNU Kota Surabaya—lokasi bersejarah yang menjadi saksi berdirinya Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.

 

Gus Ipul menekankan bahwa peringatan Hari Santri bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan momentum refleksi sejarah untuk meneladani spirit perjuangan para ulama dan kiai dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

 

“Ini adalah ajakan untuk mengingat sejarah, khususnya sejarah para ulama dalam rangka turut memerdekakan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” pungkasnya. (ivan)