SURABAYA, PustakaJC.co - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memperbanyak doa dan ikhtiar spiritual di tengah gelombang bencana alam yang melanda berbagai wilayah tanah air. Imbauan ini disampaikan mengingat penanganan bencana, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta ancaman erupsi gunung berapi, dinilai belum sepenuhnya tuntas.
Ajakan spiritual tersebut disampaikan Kiai Miftach saat mengisi pengajian Syarah Kitab Al-Hikam di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya, Jawa Timur, Jumat, (16/10/2026).
Dalam tausiyahnya, Kiai Miftach menaruh perhatian khusus pada musibah karhutla di wilayah Kalimantan dan Sumatra yang belum dapat ditangani secara optimal. Asap tebal akibat karhutla tidak hanya berdampak pada kesehatan warga di sekitar lokasi, tetapi juga berpotensi membahayakan masyarakat luas akibat paparan racun asap. Dilansir dari nu.or.id, Selasa, (20/10/2026).
"Kita mohonkan dengan Suratul Fatihah ini agar situasi musibah-musibah yang terjadi, termasuk kebakaran hutan yang sampai sekarang belum bisa ditangani dengan baik, yang mengakibatkan para penduduk setempat atau bahkan yang lain ini terkena asap, mungkin teracun, dapat segera teratasi," ujar Kiai Miftach.
Selain isu karhutla, ia juga menyinggung erupsi gunung berapi yang menyemburkan abu vulkanik serta berbagai bencana lainnya yang menambah beban masyarakat. Menurutnya, deretan bencana alam ini tidak hanya menimbulkan penderitaan fisik dan sosial, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas perekonomian negara.
Oleh karena itu, Kiai Miftach mendorong umat untuk menjadikan bacaan Surah Al-Fatihah sebagai tumpuan ikhtiar batin. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat datangnya pertolongan Allah SWT sekaligus mengiringi upaya teknis yang dilakukan para petugas lapangan.
"Semoga oleh Allah segera diselesaikan, segera bisa upaya-upaya ikhtiar ini segera ditangani dengan baik," tuturnya.
Sementara itu, laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 14 Oktober 2026 mencatat bahwa fokus pemadaman karhutla masih tertuju di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan. Data hingga 13 Oktober menunjukkan luasan lahan yang terbakar di Kalimantan Tengah telah mencapai 513,89 hektare lahan mineral dan 7,8 hektare lahan gambut.
Operasi pemadaman terus digencarkan melalui gabungan tim darat, pengeboman air (water bombing), serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Meski intensitas kebakaran di beberapa daerah mulai menunjukkan penurunan, situasi belum sepenuhnya terkendali.
Kondisi kritis juga sempat memicu BPBD Kalimantan Barat memperpanjang status tanggap darurat karhutla pada 5–18 Oktober 2026. Hal ini menyulut kekhawatiran lantaran kabut asap pekat terus menyelimuti Kota Pontianak dan daerah sekitarnya. (ivan)