Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar Ingatkan Pentingnya Istikamah Berwirid dan Menuntut Ilmu

bumi pesantren | 30 Oktober 2026 19:14

Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar Ingatkan Pentingnya Istikamah Berwirid dan Menuntut Ilmu
Rais Aam saat memberikan tausiyah dalam Ngaji Syarah Kitab Al-Hikam di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Jalan Kedung Tarukan No. 100, Surabaya. (dok nuonline). (dok nuonline)

SURABAYA, PustakaJC.co – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menegaskan pentingnya menjaga konsistensi dalam beribadah, mengamalkan wirid, dan menuntut ilmu. Menurutnya, ketekunan tersebut memiliki nilai kemuliaan yang jauh melampaui harta maupun kehormatan duniawi.

 

Hal itu disampaikan KH Miftachul Akhyar saat memberikan tausiyah dalam pengajian Syarah Kitab Al-Hikam di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Jalan Kedung Tarukan Nomor 100, Tambaksari, Surabaya, Jumat, (30/10/2026).

 

Dalam tausiyahnya, Kiai Miftach menjelaskan bahwa para wali dan ulama tetap istiqamah menjalankan wirid meskipun telah mencapai derajat spiritual yang tinggi dan memperoleh karomah. Sikap tersebut dilandasi pemahaman bahwa ibadah memiliki nilai dan manfaat yang tidak dapat dibandingkan dengan kemewahan dunia. Dilansir dari nu.or.id, Jumat, (30/10/2026).

 

Ia mengutip pandangan Imam Abu Junaid Al-Baghdadi yang menjelaskan bahwa ibadah bagi kalangan ahli makrifat lebih berharga daripada mahkota raja yang dihiasi berbagai perhiasan mahal.

 

“Ibadah menurut orang-orang ahli ma’rifat itu lebih baik daripada mahkota yang dihiasi dengan perhiasan-perhiasan mahal,” kata Kiai Miftach.

 

 

 

Menurutnya, prinsip tersebut juga tercermin dari keteladanan para ulama dalam menjaga tradisi belajar. Ia mencontohkan Imam Al-Ghazali yang tetap tekun mengaji kepada gurunya, Imam Al-Haramain, meskipun telah menghasilkan banyak karya keilmuan.

 

“Imam Ghazali itu walaupun karangan kitabnya sudah banyak, selama Imam Haramain masih sehat beliau tetap mengaji apa saja kepada gurunya,” tuturnya.

 

Kiai Miftach juga menekankan pentingnya mulazamah, yakni ketekunan dan kesinambungan seseorang dalam menuntut ilmu. Menurutnya, proses belajar yang dilakukan secara berulang bukan sekadar mengulang materi, melainkan membuka peluang munculnya pemahaman baru.

 

Ia menjelaskan, satu materi yang telah dipelajari berkali-kali tetap dapat menghadirkan perspektif berbeda ketika kembali dikaji.

 

“Walaupun sudah diterangkan sebanyak 27 kali, ketika diterangkan lagi pasti ada hal yang baru, karena ilmu itu selalu berkaitan dengan ilmu-ilmu yang lain,” ujarnya.

 

 

 

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa ilmu merupakan salah satu jalan bagi Allah SWT untuk mengangkat derajat hamba-Nya. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11 mengenai keutamaan orang-orang beriman dan berilmu.

 

“Karena itu, melalui ilmu ini lah Allah menaikkan pangkat atau derajat hamba-hambanya,” imbuhnya.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa pemahaman terhadap ilmu terkadang tidak langsung dirasakan ketika seseorang mengikuti pengajian. Namun, pelajaran tersebut dapat muncul dan menemukan relevansinya ketika seseorang berhadapan dengan persoalan nyata di tengah masyarakat.

 

“Banyak orang yang mengaji tapi tidak langsung diberi pemahaman tapi besok ketika bertemu masyarakat ilmunya muncul,” jelasnya.

 

 

 

Karena itu, Kiai Miftach mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak semestinya diukur dari jabatan, kekayaan, maupun simbol kehormatan duniawi. Ketekunan beribadah, menjaga wirid, dan terus belajar merupakan bagian penting dari perjalanan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

 

Ia kembali menegaskan pandangan Imam Junaid bahwa ibadah, wirid, dan mengaji memiliki kedudukan yang sangat tinggi dibandingkan kemewahan yang dimiliki para penguasa.

 

“Jadi wajar ketika Imam Junaid komentar ibadah, wirid, mengaji menurut ulama ahli ma’rifat itu lebih baik daripada mahkota raja-raja yang penuh dengan hiasan,” tandasnya.

 

Pesan tersebut sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga tradisi keilmuan dan amaliah keagamaan secara berkelanjutan, termasuk bagi mereka yang telah memiliki pengetahuan luas maupun kedudukan tinggi di tengah masyarakat. (ivan)