Nasruddin menilai, pengalaman sejarah tersebut menunjukkan bahwa nilai universal Islam dapat berjalan berdampingan dengan kebudayaan lokal. Seni menjadi media untuk menyampaikan pesan keagamaan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Selain seni tradisional, pesantren juga dinilai memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan Islam Nusantara.
Menurutnya, pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan agama, tetapi juga ekosistem kebudayaan yang membentuk karakter, kedisiplinan, dan kesadaran sosial para santri.
Hal itu tercermin dalam berbagai tradisi pesantren, mulai dari seni tilawah Al-Qur’an, rebana, hadrah, pembacaan kitab maulid, kaligrafi, hingga pencak silat.
Tradisi lalaran dalam pembelajaran kitab kuning, misalnya, memperlihatkan bagaimana unsur seni dan irama digunakan untuk membantu santri menghafal sekaligus memahami materi keagamaan.
Nasruddin juga mengingatkan peran historis pesantren dalam perjuangan melawan kolonialisme. Ia mencontohkan Pesantren Buntet di Cirebon yang menjadi salah satu pusat gerakan kultural dan perlawanan terhadap intervensi kolonial Belanda.
Dalam perkembangannya, ia melihat seni Islam dan tradisi pesantren menghadapi tantangan berupa komersialisasi budaya serta pandangan keagamaan yang cenderung menolak sejumlah ekspresi seni dan tradisi lokal.