SURABAYA, PustakaJC.co – Kondisi kelas menengah Indonesia dinilai tengah menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. Penyusutan jumlah kelas menengah, stagnasi pendapatan, meningkatnya biaya hidup, hingga berkurangnya daya beli menjadi sinyal perlambatan yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam kolom yang ditulis Doktor Sosiologi Universitas Padjadjaran, Jannus TH Siahaan, kelas menengah disebut sebagai pilar utama perekonomian karena berperan sebagai motor konsumsi domestik, pembayar pajak terbesar, penyedia tenaga kerja terampil, hingga penggerak kewirausahaan dan inovasi.
Namun, berbagai indikator menunjukkan kelompok ini kini mengalami fenomena middle class squeeze, yakni kondisi ketika kelas menengah mengalami tekanan ekonomi berkepanjangan sehingga rentan turun ke kelompok ekonomi yang lebih rendah.
Data Bank Dunia menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah Indonesia turun dari sekitar 48 juta jiwa pada 2024 menjadi sekitar 46,7 juta jiwa pada 2025. Penurunan tersebut mencerminkan semakin banyak masyarakat yang bergeser ke kelompok aspiring middle class atau menuju kelas menengah yang lebih rentan terhadap gejolak ekonomi.
Tekanan terhadap kelas menengah dipicu berbagai faktor, mulai dari tingginya biaya hidup, inflasi pangan, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga belum pulihnya pasar tenaga kerja pascapandemi COVID-19.
Di sisi lain, kelompok kelas menengah dinilai berada pada posisi yang sulit. Mereka tidak memenuhi syarat sebagai penerima bantuan sosial, tetapi juga belum memiliki kekuatan ekonomi yang cukup untuk menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok maupun tekanan ekonomi lainnya.
Pandemi COVID-19 menjadi titik balik melemahnya kelas menengah Indonesia. Krisis tersebut menyebabkan jutaan pekerja formal kehilangan pekerjaan dan beralih ke sektor informal yang memiliki produktivitas maupun kepastian pendapatan lebih rendah.
Fenomena deindustrialisasi juga dinilai memperburuk kondisi tersebut. Semakin banyak pekerja kelas menengah yang beralih ke sektor pertanian maupun pekerjaan informal tanpa perlindungan jaminan sosial dan kepastian penghasilan.
Selain itu, lonjakan harga pangan, terutama beras yang sempat mencatat inflasi tertinggi dalam satu dekade terakhir, semakin menggerus kemampuan belanja rumah tangga kelas menengah.
Sejumlah ekonom menilai penguatan kelas menengah menjadi salah satu prasyarat penting agar Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) menuju target Indonesia Emas 2045.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperluas penciptaan lapangan kerja formal, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, meningkatkan kualitas layanan publik, serta menghadirkan kebijakan fiskal yang lebih berpihak kepada kelompok kelas menengah agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi nasional berkelanjutan.
(int)