SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Kota Surabaya memperkuat ekonomi kerakyatan dengan menggandeng 38 hotel untuk menyerap produk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Langkah ini diwujudkan melalui penandatanganan Naskah Kesepakatan Bersama (NKB) antara Pemkot Surabaya dan industri perhotelan.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi bagian dari strategi memperkuat rantai pasok lokal sekaligus menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto agar negara hadir membantu masyarakat kecil. Dilansir dari jatimpos.co, Selasa, (17/2/2026).
“Pemerintah kota memberikan kemudahan perizinan, tetapi juga memastikan investasi ini memberikan manfaat langsung bagi warga Surabaya, khususnya pelaku UMKM,” ujar Eri usai penandatanganan NKB di Lobby Balai Kota Surabaya.
Kesepakatan yang dirintis bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timurselama hampir enam bulan itu membuka peluang pasokan komoditas skala besar. Produk UMKM akan masuk ke rantai pasok hotel, mulai dari bahan pangan hingga perlengkapan kamar.
Eri menjelaskan, inti kesepakatan ini adalah integrasi kebutuhan hotel dengan kemampuan produksi UMKM lokal. Pihak hotel membuka daftar kebutuhan, sementara UMKM didorong memenuhi standar kualitas yang ditetapkan industri perhotelan.
“Ketika hotel memiliki jaringan luas, kegiatan dan potensi Surabaya juga bisa dipromosikan ke wilayah lain. Ini akan berdampak pada peningkatan ekonomi kota,” katanya.
Selain itu, Eri menegaskan pentingnya peran investor dan pelaku usaha dalam mendukung pembangunan kota melalui kontribusi pajak.
“Pajak dari investor digunakan untuk membangun infrastruktur, pendidikan gratis, dan membantu masyarakat kurang mampu. Karena itu, kami berterima kasih kepada semua pelaku usaha yang telah berkontribusi,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Surabaya, Herry Purwadi, mengungkapkan program ini merupakan penguatan dari kerja sama yang sudah berjalan sejak 2022.
Pada tahap awal, sebanyak 38 hotel, mulai bintang dua hingga bintang lima, terlibat dalam program tersebut.
Berdasarkan rekapitulasi kebutuhan hotel, sejumlah komoditas yang dibutuhkan setiap bulan antara lain:
• Daging ayam: 5,6 ton
• Daging sapi: 600 kilogram
• Sayur-sayuran: 4,7 ton
• Buah-buahan: 12 ton
• Susu segar: 3.200 liter
• Beras: 3,5 ton
• Telur: 8 ton
• Minyak goreng: 2,6 ton
• Gula: 4,3 ton
Selain bahan pangan, hotel juga membutuhkan perlengkapan kamar seperti slipper hingga 39.000 pieces per bulan, serta berbagai produk amenities seperti sabun, sampo, dan makanan ringan.
“Semua kebutuhan itu diharapkan dapat dipenuhi supplier lokal, khususnya UMKM Surabaya yang telah memenuhi standar kualitas,” kata Herry.
Ketua PHRI Jawa Timur, Puguh Sugeng Sutrisno, menyambut positif kolaborasi tersebut dan berharap semakin banyak hotel bergabung.
“Semoga jumlah hotel yang bekerja sama dengan UMKM terus bertambah, sehingga memberikan dampak nyata bagi ekonomi Surabaya,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemkot Surabaya terhadap industri perhotelan, termasuk kebijakan yang membantu menjaga stabilitas usaha.
Kerja sama ini diharapkan menjadi model penguatan ekonomi daerah berbasis kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan UMKM, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan di Kota Pahlawan. (ivan)