Impor Minyak dari AS Mulai Berjalan, Pemerintah Percepat Pembangunan Storage

komunitas | 05 Maret 2026 17:11

Impor Minyak dari AS Mulai Berjalan, Pemerintah Percepat Pembangunan Storage
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi keterangan ketika ditemui selepas acara buka bersama di Kementerian ESDM. (dok antarajatim)

JAKARTA, PustakaJC.co – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa impor minyak mentah dari Amerika Serikat sebagai bagian dari pengalihan sumber pasokan energi Indonesia telah mulai berjalan secara bertahap.

 

 

Bahlil menjelaskan, proses pengalihan impor minyak dari kawasan Timur Tengah ke Amerika Serikat tidak dapat dilakukan sekaligus. Hal tersebut disebabkan keterbatasan kapasitas fasilitas penyimpanan (storage) minyak mentah yang dimiliki Indonesia saat ini.

 

 

“Sekarang sudah mulai berjalan. Bertahap, ya, bertahap,” ujar Bahlil. Demikian dikutip dari antarajatim, kamis, (5/3/2026). 

 

 

Menurutnya, pemerintah juga tengah mempercepat pembangunan fasilitas penyimpanan minyak guna memperkuat ketahanan energi nasional. Saat ini kapasitas penyimpanan minyak Indonesia berada di kisaran 25–26 hari, sementara pemerintah menargetkan peningkatan hingga 90 hari atau sekitar tiga bulan sesuai standar internasional.

 

 

Bahlil mengatakan rencana tersebut telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto, yang kemudian memberikan arahan agar pembangunan storage segera direalisasikan guna memperkuat ketahanan energi nasional.

 

Pemerintah disebut telah mendapatkan investor untuk pembangunan fasilitas penyimpanan minyak yang direncanakan berlokasi di Pulau Sumatera. Saat ini proyek tersebut masih dalam tahap studi kelayakan sebelum memasuki tahap konstruksi, dengan target pembangunan dimulai pada tahun ini.

 

 

"Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera dibangun. Supaya apa? Kita ini kan butuh survival,” ucap Bahlil. Demikian dikutip dari antarajatim, kamis, (5/3/2026).

 

 

Ketahanan energi Indonesia menjadi perhatian di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang turut melibatkan Israel, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

 

 

Ketegangan tersebut juga menimbulkan spekulasi mengenai potensi gangguan distribusi energi di jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

 

 

Selain menjadi jalur penting ekspor minyak dari negara-negara Teluk, Selat Hormuz juga dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak global atau sekitar 20 juta barel per hari. (Frcn)